Suroso Isnandar Bersihkan Kroni Darmawan Prasodjo di PLN: Proyek Kantor se Indonesia Jadi Temuan

Redaksi - Jumat, 16 Oktober 2026 13:58 WIB
Suroso Isnandar Bersihkan Kroni Darmawan Prasodjo di PLN: Proyek Kantor se Indonesia Jadi Temuan
Poto: Ilustrasi
Logo PLN
drberita.id -Darmawan Prasodjo alias Darmo akhirnya tersingkit setelah 5 tahun menguasai singgasana Direktur Utama (Dirut) PT PLN (Persero). Dampaknya sangat besar bagi top manajemen yang selama ini dikuasai oleh kaki tangannya.

Tidak hanya dari kalangan pegawai organik, pejabat yang masuk ke PLN lewat jalur politik dan profesional hire (pro-hire) dikabarkan juga mulai kasak-kusuk. Terlebih bagi Wadirut PLN Yusuf Didi Setiarto yang selama ini dikabarkan sebagai pengendali perusahaan.

Menurut informasi, mantan Deputi II KSP direzim Presiden Jokowi itu mulai uring-uringan karena Suroso Isnandar yang selama ini anak buahnya dijajaran direksi, justru kini menjadi atasannya.

Koordinator Nasional Relawan Listrik untuk Negeri (Kornas Re-LUN) Teuku Yudhistira mengungkapkan semua itu hal yang sangat wajar terjadi. Apalagi sang Wadirut sebelumnya disebut-sebut sangat ambisi untuk duduk sebagai Dirut PLN jika Darmawan Prasodjo lengser. Sayangnya, targetnya pun meleset.

"Skemanya memang seperti itu, habis 5 tahun Darmo (Darmawan Prasodjo) menjabat, Yusuf Didi yang diberi panggung berikutnya. Tapi karena tak jadi, wajarlah mereka panik. Karena 5 tahun berkuasa dan sekarang jadi bawahan dari mantan bawahnya sendiri, secara psikologis terganggu," ungkapYudhistira, Jumat 16 Oktober 2026.

Apalagi, kata Yudhistira, sejak posisi Wadirut diaktifkan dan Darmo menunjuk Yusuf Didi sebagai wakilnya, sudah menjadi rahasia umum ada skenario yang mereka mainkan, dan semuanya terindikasi untuk melakukan praktik tercela di PLN.

"Selama ini kan kerajaan Darmo dan Yusuf Didi dengan circle-nya sudah menggurita. Apalagi yang pro hire yang tiba-tiba masuk PLN karena nepotisme, dan tiba-tiba pula mendapat jabatan di top manajemen, pastinya mereka sangat kuat dan tidak terusik baik dari dalam yang sudah tertutup rapat dan dari eksternal yang sulit menembusnya," paparnya.

Demi perbaikan PLN, Yudhistira mendesak Dirut PLN baru secepatnya membersihkan PLN dari kroni-kroni Darmo yang saat ini masih bercokol, seperti Wadirut, Dirut PLN Icon, Kepala
Satuan Teknologi Informasi, dan lainnya yang diangkat oleh Darmo dengan sesuka hati, termasuk jajaran Executive Vice President (EVP) dan Vice Presiden (VP) di PLN.

"Ini langkah strategis, sangat krusial dan penting bagi Dirut yang baru untuk menunjukan powernya, siapa sekarang pengendali. Dan yang terpenting juga, agar di tangan Dirut yang baru, PLN dikelola oleh talenta yang profesionalberdasarkan prinsip meritokrasi, bukan nepotisme. Semua memiliki hak untuk mendapatkan jabatan sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Dan yang terpenting juga, ke depan tidak ada lagi pejabat PLN yang berani aneh aneh seperti pelecehan seksual ataupun menjadi pelaku kekerasan yang viral
beberapa waktu lalu," urainya.

Yudhistira menegaskan di masa Darmo memimpin PLN, diduga tidak hanya dia yang memiliki modus pribadi dalam proyek ketenagalistrikan. Modus pribadi lainnya pun mulai merambah pada proyek pekerjaan renovasi gedung kantor PLN diseluruh Indonesia yang diduga didalangi Yusuf Didi.

"Informasi yang kami peroleh, pekerjaan renovasi kantor ini secara terpusat dibuat kontraknya oleh Divisi Umum PLN melalui skema penunjukan langsung kepada PT Sinergi Properti Pratama (SPP) yang merupakan anak usaha Dana Pensiun PLN.

Namun, lanjut Yudhis, faktanya proyek tersebut disubkontrakkan lagi kepada perusahaan lain yang diduga memiliki afiliasi dengan Yusuf Didi. Tapi bukan Yusuf Didi namanya kalau tidak pandai bersiasat agar terlihat bersih, pembuatan kontrak dilimpahkan kepada bawahaannya yakni EVP Umum PLN bernama Khairullah untuk menandatangani kontrak pekerjaanrenovasi seluruh kantor PLN se Indonesia yang nilainya mencapai ratusan miliar. Tujuannya jelas, jika di kemudian hari muncul permasalahan hukum, maka yang bertanggungjawab bukan Yusuf Didi.

"Pertanyaannya, tentu sangat disayangkan apabila selevel pejabat EVP Umum mau menjadi tumbal atas perilaku korup oknum pimpinannya, yang sama sekali tak memiliki darah PLN. Atau memang pejabat EVP Umum tersebut turut serta menikmati keuntungan pribadi dari pelaksanaanpekerjaan renovasi kantor-kantor PLN tersebut. Tapi jika flashback sedikit, Khairullah ini setelah dicopot dari GM PLN UID Riau Kepri, dia punya hutang Budi sama Yusuf Didi. Tapi hanya 3 bulan fungsional, dia diberi jabatan empuk oleh Yusuf Didi menjadi EVP Umum. Mungkin hal begini merupakan kesepakatan bawah meja," pungkasnya.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru