Tanam 1000 Pohon Khas Melayu di Bantaran Sungai Deli Untuk Menjaga Kota Medan
Redaksi - Sabtu, 06 Juni 2026 19:50 WIB
Poto: Istimewa
PW ISMI Sumut bersama sejumlah komunitas memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di bantaran Sungai Deli, Kota Medan.
drberita.id -Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (PW ISMI) Sumatera Utara bersama sejumlah komunitas memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, di bantaran Sungai Deli, Kota Meden.
Green Justice Indonesia (GJI), Warga Peduli Sekitar (Wa Pesek), Komunitas Warga Kanal (KWK), dan Bentangan Alam Hijau Indonesia (BAHIS) ikut melaksanakan aksi penanaman 1.000 pohon khas Melayu di bantaran Sungai Deli, tepatnya di kawasan Hutan Kota Medan Johor, Sabtu 6 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung tema "Menghidupkan Kembali Sungai Deli, Menguatkan Peradaban Melayu Berkelanjutan" tersebut menjadi bagian dari komitmen berbagai elemen masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus merawat warisan sejarah dan budaya Melayu yang melekat pada keberadaan Sungai Deli.
Ketua PW ISMI Sumatera Utara, Prof. Dr. Nispul Khoiri MA dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia tidak boleh berhenti pada seremoni semata, tetapi harus diwujudkan melalui aksi nyata dalam menjaga bumi yang tengah menghadapi berbagai ancaman serius.
Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi apa yang disebut sebagai triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, polusi yang semakin masif, serta hilangnya keanekaragaman hayati yang berdampak langsung terhadap kehidupan manusia.
"Manusia tidak akan mampu bertahan hidup tanpa lingkungan yang hijau dan sehat. Lingkungan yang sehat merupakan fondasi utama kehidupan karena berfungsi menghasilkan oksigen, menyaring polusi udara, menjaga sumber air, sekaligus mencegah berbagai bencana ekologis seperti banjir," ujarnya.
Guru Besar yang juga menjabat sebagai Ketua LP2M UIN Sumatera Utara itu menjelaskan bahwa kegiatan penanaman pohon tersebut memiliki dua tujuan strategis, yaitu memperkuat fungsi ekologis Sungai Deli dan membangun kesadaran ekoteologis di tengah masyarakat.
Mengembalikan Fungsi Ekologis Sungai Deli
Prof. Nispul mengatakan, Sungai Deli memiliki posisi yang sangat penting bagi Kota Medan. Selain berfungsi sebagai wadah penampung debit air dan pengendali banjir bagi kawasan hilir, sungai tersebut juga merupakan ikon sejarah yang menjadi saksi perjalanan peradaban Melayu dan Kesultanan Deli.
"Kita berharap Sungai Deli tidak mengalami krisis lingkungan yang semakin parah. Menjaga Sungai Deli berarti menjaga Kota Medan, menjaga keselamatan masyarakat, sekaligus melestarikan ikon sejarah yang menjadi kebanggaan daerah ini," katanya.
Ia menjelaskan bahwa secara historis Sungai Deli merupakan urat nadi perdagangan dan transportasi Kesultanan Deli. Sungai yang membelah Kota Medan itu menjadi pusat aktivitas ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Melayu sejak berabad-abad lalu.
Karena itu, upaya rehabilitasi kawasan bantaran sungai melalui penanaman pohon dinilai penting untuk mengembalikan fungsi ekologis sekaligus memperkuat identitas sejarah yang melekat pada Sungai Deli.
Sebanyak 1.000 pohon khas Melayu ditanam dalam kegiatan tersebut, di antaranya pohon sukun, matoa, kedaung, rambutan, dan berbagai jenis tanaman lainnya yang memiliki nilai ekologis serta manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Penanaman pohon tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya serap air, memperkuat ketahanan lingkungan, mengurangi risiko banjir, menjaga kualitas udara, serta menjadi warisan hijau bagi generasi mendatang.
Membangun Kesadaran Ekoteologi
Selain aspek lingkungan, kegiatan tersebut juga menekankan pentingnya penguatan ekoteologi atau kesadaran spiritual dalam menjaga alam.
Prof. Nispul menilai bahwa berbagai krisis ekologis yang terjadi saat ini tidak hanya disebabkan oleh faktor teknis, tetapi juga dipengaruhi oleh cara pandang manusia terhadap alam dan hubungannya dengan Tuhan.
Menurutnya, selama ini diskursus lingkungan lebih banyak didominasi pendekatan teknokratis yang mengandalkan sains dan teknologi, sementara aspek moral, etika, dan spiritual sering kali terabaikan.
"Kerusakan ekologi pada dasarnya juga berakar dari krisis epistemologis, yaitu cara manusia memahami dirinya, Tuhan, dan alam semesta. Ketika relasi itu tidak seimbang, maka eksploitasi terhadap alam menjadi sesuatu yang dianggap biasa," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa seluruh agama pada dasarnya mengajarkan tanggung jawab manusia untuk menjaga lingkungan hidup.
Dalam perspektif Islam, manusia ditempatkan sebagai khalifah di muka bumi, bukan sebagai penguasa absolut yang bebas mengeksploitasi alam, melainkan penjaga keseimbangan kosmik yang bertugas merawat seluruh ciptaan Tuhan.
"Prinsip tauhid mengajarkan bahwa seluruh makhluk ciptaan Tuhan saling terhubung dalam satu kesatuan ilahi. Karena itu agama tidak hanya menjadi sumber moralitas personal, tetapi juga dapat menjadi fondasi peradaban ekologis yang berkelanjutan," katanya.
Menurutnya, nilai-nilai ekoteologi Islam perlu diintegrasikan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat agar lahir kesadaran kolektif untuk menjaga lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab kemanusiaan.
Dihadiri Berbagai Elemen Masyarakat
Kegiatan penanaman pohon tersebut mendapat dukungan dari berbagai pihak dan dihadiri sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua Harian dan Sekretaris Jenderal Majelis Pimpinan Besar (MPB) ISMI, jajaran Pengurus PW ISMI Sumatera Utara, PD ISMI Kota Medan, unsur pemerintah kecamatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar SMAN 13 Medan, serta berbagai komunitas lingkungan seperti Wa Pesek, KWK, dan BAHIS.
Melalui kolaborasi tersebut, para peserta berharap gerakan penghijauan di bantaran Sungai Deli dapat menjadi awal dari gerakan yang lebih besar untuk memulihkan kondisi sungai-sungai di Kota Medan sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai peradaban Melayu yang selaras dengan alam.
Aksi penanaman 1.000 pohon ini menjadi simbol bahwa pelestarian lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan keterlibatan aktif masyarakat, akademisi, komunitas, dan organisasi kemasyarakatan demi mewujudkan Kota Medan yang lebih hijau, lestari, dan berkelanjutan.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Koalisi Masyarakat Anti Korupsi Desak Kejaksaan Agung Periksa 42 SPPG MBG Milik Penguasa Proyek di Kota Medan
134 Pengunjung Lokasi Hiburan Malam di Kota Medan Terjaring Razia Gabungan BNN dan Polda Sumut
Penguasa Proyek di Kota Medan Rabuddin alias Rb Ternyata Miliki 42 SPPG MBG di Sumut dari 5 Yayasan
Mati Lampu, Hujan Deras dan Angin Kencang Sebabkan Pohon Tumbang Timpa Rumah Warga di Medan
Rahudman Harahap Putra Ketua Dewan Negeri Sihapas Jadi Walikota Medan, Bukunya Segera Terbit
BNN Boyong 16 Orang dari Aluminium Raya Kota Medan
Komentar