Orangtua Calon Peserta POPKOT Medan 2026 Protes KONI dan Dispora

Redaksi - Kamis, 21 Mei 2026 13:36 WIB
Orangtua Calon Peserta POPKOT Medan 2026 Protes KONI dan Dispora
Poto: Istimewa
flyer POPKOT Medan 2026
drberita.id -Pelaksanaan Pekan Olahraga Pelajar Kota (POPKOT) Medan 2026, cabang olahraga badminton mendapat perhatian dari sejumlah orangtua calon peserta.

Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada 25-26 Mei 2026 di GOR Elite One, Jalan T. Amir Hamzah No. 48, Medan, dinilai menjadi wadah penting bagi pembinaan atlet pelajar di Kota Medan.

Secara umum, pelaksanaan POPKOT Medan patut diapresiasi karena menjadi ruang kompetisi bagi pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA untuk mengasah kemampuan, membangun mental bertanding, serta memperkuat pembinaan olahraga sejak usia sekolah.

Kegiatan seperti ini penting sebagai jalur penjaringan bibit atlet potensial yang kelak dapat membawa nama Kota Medan di tingkat provinsi maupun nasional.

Namun, di balik semangat pembinaan tersebut, muncul sejumlah catatan evaluasi terhadap KONI Medan dan Dispora Kota Medan, khususnya terkait keterbatasan kuota peserta dan transparansi persyaratan pendaftaran.

Berdasarkan flyer POPKOT Medan 2026 cabang badminton, kategori yang dibuka meliputi: Tunggal SD putra/putri kelas 4, 5, dan 6. Tunggal SMP putra/putri kelas VII sampai IX. Tunggal SMA putra/putri kelas X dan XI.

Namun, kuota yang dicantumkan dalam flyer hanya 16 peserta tunggal putri, dan 16 peserta tunggal putra, atau total 32 peserta.

Jumlah tersebut dinilai sangat terbatas jika dibandingkan dengan data atlet badminton Kota Medan. Berdasarkan tangkapan layar data PBSI Sumatera Utara yang beredar, Kota Medan tercatat memiliki jumlah atlet U-9 14 atlet, U-11 42 atlet, U-13 87 atlet, U-15 158 alet, dan U-17 176 atlet.

Dari data tersebut, total atlet Kota Medan untuk kelompok usia U-9 sampai U-17 mencapai 477 atlet. Angka ini belum termasuk kelompok usia lain yang terlihat sebagian pada tabel.

Jika dibandingkan dengan kuota POPKOT badminton yang hanya 32 peserta, maka kuota tersebut hanya menampung sekitar 6,7 persen dari total atlet Kota Medan pada kelompok usia U-9 sampai U-17.

Perbandingan ini menimbulkan pertanyaan publik: apakah kuota tersebut sudah cukup representatif untuk menggambarkan potensi atlet pelajar Kota Medan, terutama karena POPKOT merupakan ajang pembinaan olahraga pelajar yang seharusnya membuka ruang seleksi secara luas dan adil.

Catatan lain yang disoroti orangtua calon perserta adalah soal transparansi syarat pendaftaran. Dalam flyer pendaftaran, informasi yang tercantum menyebutkan persyaratan berupa data peserta, Kartu Keluarga, dan sekolah di Medan.

Namun, sejumlah orangtua calon peserta menyebutkan bahwa syarat melampirkan rapor sekolah atau data semester akhir tidak dituliskan secara jelas pada flyer awal.

Akibatnya, calon peserta yang telah mengirimkan data awal tetapi terlambat melampirkan rapor sekolah dianggap belum terdaftar atau tidak mendapatkan kuota. Situasi inilah dinilai dapat menimbulkan kebingungan, terutama bagi orang tua yang berpedoman pada informasi resmi dalam flyer.

Dalam proses pendaftaran dengan kuota yang sangat terbatas, kejelasan syarat sejak awal menjadi hal penting bagi calon peserta. Jika ada dokumen tambahan seperti rapor, nilai semester akhir, atau bukti kelas, maka seharusnya seluruh persyaratan dicantumkan secara lengkap dan tegas sejak awal publikasi.

Para orangtua calon peserta berharap KONI Medan dan Dispora Medan dapat menjadikan hal ini sebagai bahan evaluasi. Evaluasi tersebut bukan untuk menyalahkan pihak tertentu, melainkan untuk memperbaiki tata kelola pendaftaran agar lebih transparan, akuntabel, dan berpihak pada pembinaan atlet pelajar.

Beberapa hal yang dinilai perlu diperbaiki antara lain: pencantuman seluruh syarat pendaftaran secara lengkap pada flyer, penjelasan kuota per kategori usia dan jenjang, sistem antrean pendaftaran yang transparan, pemberitahuan batas waktu melengkapi berkas secara tertulis, serta mekanisme konfirmasi bagi peserta yang sudah mengirimkan data awal.

Dengan pembenahan tersebut, POPKOT Medan ke depannya diharapkan tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi contoh tata kelola pembinaan olahraga pelajar yang profesional, terbuka, dan adil bagi seluruh anak anak Kota Medan yang memiliki potensi di bidang olahraga.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru