Menjaga Merah Putih di Tengah Perbedaan
Redaksi - Jumat, 08 Agustus 2025 22:34 WIB
Poto: Istimewa
Bendera Merah Putih
Oleh: Ilham Fauji Munthe, SE, ME - Ketua Umum HIMMAH Kota Medan Periode 2018-2020
drberita.id -Delapan puluh tahun sudah (17 Agustus 2025) bangsa Indonesia merdeka. Dalam rentang waktu yang panjang ini, kita menyaksikan betapa perbedaan yang dulu menjadi kekuatan dalam merebut kemerdekaan, kini justru sering menjadi alasan munculnya perpecahan.
Padahal, para pendiri bangsa (founding fathers) telah meletakkan fondasi kebhinekaan sebagai kekayaan bangsa, bukan ancaman. Dalam konteks inilah penting bagi kita, terutama generasi muda, untuk merenungi makna kemerdekaan secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai sejarah yang dikenang, tetapi sebagai nilai yang terus diperjuangkan. Salah satunya adalah menjaga merah putih di tengah perbedaan.
Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 280 juta jiwa (BPS, 2025), dengan 1.340 suku bangsa (Indonesia.go.id), ratusan bahasa daerah, dan berbagai agama serta kepercayaan. Dalam kemajemukan itulah sesungguhnya identitas Indonesia dibangun.
Sumpah Pemuda 1928 telah menegaskan semangat itu, dengan ikrar yang selalu bergema: "Bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia." Artinya, sejak awal perjuangan, kebhinekaan bukan sekadar diterima, tetapi dijadikan landasan utama dalam membangun persatuan nasional.
Namun ujian terhadap semangat ini tidak pernah berhenti. Bila pada masa perjuangan kemerdekaan perbedaan disatukan untuk melawan penjajahan, kini perbedaan justru sering dijadikan alat politik yang memecah belah. Di era digital dan demokrasi terbuka, ruang informasi yang bebas telah menjadi arena pertarungan identitas.
Media sosial, yang seharusnya menjadi ruang dialog dan saling memahami, justru kerap menjadi medan pertempuran narasi yang sarat kebencian, hoaks, dan polarisasi politik. Di sinilah kita melihat bahwa persatuan Indonesia kembali diuji, bukan oleh senjata, tetapi oleh ujaran kebencian, disinformasi, dan hoaks.
Di tengah tantangan ini, peran pemuda lintas agama, suku, dan komunitas menjadi sangat penting. Pemuda tidak bisa hanya menjadi penonton, apalagi ikut dalam arus provokasi. Justru pemudalah yang harus berdiri di garis depan untuk merawat persaudaraan dan membangun dialog lintas identitas.
Karena sejatinya, di tangan generasi mudalah masa depan Indonesia ditentukan. Bukankan keberhasilan merebut kemerdekaan di dalam ada peran pemuda? Gerakan kepemudaan yang progresif, toleran, dan inklusif harus terus digalakkan. Kita bisa belajar dari banyak inisiatif positif yang muncul dari kelompok-kelompok pemuda, seperti forum lintas iman, komunitas seni budaya lintas suku, dan gerakan literasi digital anti-hoaks.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Anak Glugur Medan Nyaris Tewas Dibacok Saat Hari Kemerdekaan RI di Deliserdang
Muhammad Nuh Ajak Syukuri 80 Tahun Kemerdekaan: Soroti Profesionalisme BPN dalam Kasus Tanah Wakaf
Kemerdekaan RI ke 80: Korban Kriminalisasi Tiba di Perbatasan Riau - Jambi Menuju Istana Negara
Merdeka Berbagai di Kemerdekaan RI di Medan Area, BKM: Menggugah Kepedulian Sesama
Wong Chun Sen Baca Teks Proklamasi Kemerdekaan RI di Ikon Sejarah Lapangan Merdeka Medan
Wong Chun Sen: Kemerdekaan RI Harus Diisi Dengan Kemakmuran dan Kesejahteraan Rakyat
Komentar
Berita Terbaru
Pendiri KBPP Polri Tolak Calon Tunggal dan Minta Kapolri Tunda Munas Sampai Juni
FOZ Sumut Himpun Rp 9,8 Miliar Zakat di Ramadhan 1447 H, Salurkan ke 66.974 Penerima Manfaat
8 Potensi Korupsi MBG Versi KPK
Kejari Tebingtinggi Tetapkan Hasbie Ashsiddiqi Jadi Tersangka Korupsi Lingkungan Hidup
Polda Sumut Geledah Kantor Dinas Kominfo Tebingtinggi, Kadis Ghazali Rahman Sempat Bantah OTT Hoax
Koperasi Desa Bukan Sekadar Simpan Pinjam, Tapi Pusat Ekonomi Warga Lengkap dan Modern
Relawan Bobby Nasution Panik Lihat Bupati Batubara Dukung Pemekaran Sumatera Pantai Timur