Walikota Tebingtinggi Curhat Pasca Idul Fitri: Sindir Wakil dan Anggota DPRD

Redaksi - Kamis, 26 Maret 2026 20:59 WIB
Walikota Tebingtinggi Curhat Pasca Idul Fitri: Sindir Wakil dan Anggota DPRD
Poto: Istimewa
Walikota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih apel gabungan pasca idul fitri.
drberita.id -Apel gabungan perdana setelah Idul Fitri 1447 Hijriah di lingkungan Pemerintah Kota Tebingtinggi, Rabu Pagi 25 Maret 2026, tidak sekadar menjadi ajang konsolidasi birokrasi.

Di podium resmi, Walikota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih justru melontarkan pernyataan bernada keras plus curhat (Curahan Hati) yang diduga menyasar ke Wakil Walikota hingga anggota DPRD.

Di hadapan jajaran OPD, Sekda, Staf Ahli, Para Asisten, Camat, dan lurah, Walikota Tebingtinggi, Iman Irdian Saragih secara terbuka menyinggung soal loyalitas dan rasa syukur seorang pemimpin.

"Saya bilang, ada orang juga yang nggak bersyukur. Udah diangkat marwahnya, derajatnya, menjadi pemimpin. Nggak keluar ini. Kan diangkat marwahnya, derajatnya, jadi pemimpin, nggak keluar dana. Kurang bersyukur pak. Ini namanya kufur pak. Ini nggak boleh bapak ibu sekalian, harus banyak kita bersyukur, ikhlas, bersabar," ujar Iman Irdian dalam amanatnya.

Pernyataan itu langsung memantik tafsir dalam konteks hubungan yang belakangan dikabarkan tidak harmonis antara Walikota dan Wakil Tebingtinggi, dan kalimat tersebut diduga kuat diarahkan ke lingkaran internal pemerintahan sendiri.

Namun, nada pidato tidak berhenti di situ. Walikota Iman Irdian juga melontarkan pernyataan yang lebih tajam, yang diduga mengarah ke pihak legislatif.

"Saya bingung, ini gila orang ini. Manusia kok nggak konsisten ya. Seluruh permintaannya diakomodir," katanya.

Ia bahkan menegaskan latar belakangnya dengan menyebut pernah berada di posisi pimpinan. "Dulu saya juga sempat di situ pak. Jadi pimpinan pak. Boleh ditanya OPD ini, pernah nggak saya minta proyek? Nggak pernah pak," lanjut Walikota Iman Irdian dalam pidatonya.

Pernyataan itu memperkuat dugaan bahwa kritik tersebut ditujukan kepada DPRD Kota Tebingtinggi, mengingat Walikota Iman Irdian secara eksplisit merujuk pengalaman dirinya sebagai mantan pimpinan legislatif di Kota Tebingtinggi periode 2019-2024.

Selain menyentil figur tertentu, Walikota Iman Irdian juga membangun narasi tekanan. Ia mengaku kerap "dicari kesalahannya", bahkan menggunakan metafora ekstrem.

"Kalau ditembakin itu cuma kenanya di tangan, di kaki. Organ vital kita nggak kena," ujarnya.

Gaya komunikasi seperti ini, menurut Pengamat Komunikasi Publik asal Kota Medan, M. Tobing, S.Sos akan berisiko menimbulkan tafsir liar di internal birokrasi.

"Forum apel resmi seharusnya menjadi ruang pesan yang jelas dan menenangkan. Kalau yang muncul justru sindiran terbuka, apalagi dengan diksi keras, ASN akan sibuk menafsir, bukan bekerja," ujar Tobing singkat saat dimintai tanggapannya terkait gaya komunikasi pidato Walikota Tebingtinggi Iman Irdian.

Di sisi lain, Walikota Tebingtinggi Iman Irdian juga menyampaikan pesan integritas, menolak pemberian parsel dari OPD dan mengingatkan agar tidak ada pejabat yang tersangkut hukum.

"Tolong jangan antar parcel ke rumah saya, saya nggak berani pak," katanya.

Namun, pesan itu terasa tenggelam di tengah derasnya pernyataan bernada konfrontatif. Apel ini pun seperti membuka lapisan yang selama ini hanya terdengar sebagai isu soal relasi yang retak di internal eksekutif serta komunikasi yang tidak lagi hangat dengan legislatif.

Di akhir apel gabungan, seremoni halal bihalal tetap berlangsung saling berjabat tangan sesama OPD denganpejabat teras di Lingkungan Pemko Tebingtinggi.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru