Cahaya Obor Penyintas Bencana Alam di Aceh Tamiang Tetap Menyala Sambut Bulan Suci Ramadhan

Redaksi - Rabu, 18 Februari 2026 15:38 WIB
Cahaya Obor Penyintas Bencana Alam di Aceh Tamiang Tetap Menyala Sambut Bulan Suci Ramadhan
Poto: Istimewa
Penyintas bencana alam di aceh tamiang sambut bulan suci ramadhan.
drberita.id -Di tengah sisa lumpur bencana alam yang belum sepenuhnya mengering, cahaya obor tetap menyala di Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa 17 Februari 2026 malam.

Ratusan warga yang sebagian masih bertahan di tenda tenda bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tetap menggelar tradisi tahunan, yaitu pawai obor menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Tradisi tersebut digagas oleh seorang pemuda desa, Mat Isya. Di tengah kondisi kampung yang porak-poranda, ia mengajak para relawan dan pemuda untuk tetap menjaga semangat ramadhan.

"Awalnya saya ngobrol santai dengan beberapa relawan untuk berinisiatif melaksanakan pawai obor. Ternyata mereka mengamini usulan itu, karena setiap tahun memang selalu mengadakan pawai obor menyambut Ramadhan," ujarnya.

Sehari sebelumnya, para pemuda bersama relawan mencari bambu, merakit obor, dan menyiapkannya bersama-sama. Tanpa panggung megah, tanpa perayaan besar hanya cahaya api dan semangat gotong royong yang menyatukan mereka.

Desa Sekumur saat ini masih dalam masa pemulihan. Sejumlah rumah rusak, sebagian bahkan rata dengan tanah. Namun malam itu, suasana berubah syahdu. Anak anak, orang tua, hingga relawan berjalan beriringan, melantunkan takbir dan shalawat.

Bagi warga Sekumur, Ramadhan bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi penguat jiwa, momentum untuk bangkit dan menata ulang harapan yang sempat hanyut bersama derasnya banjir.

Cahaya obor yang berbaris sepanjang jalan desa menjadi simbol keteguhan hati. Di antara puing dan tenda pengungsian, api-api kecil itu tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga menyalakan keyakinan bahwa setelah ujian, selalu ada harapan yang kembali tumbuh.

Di Desa Sekumur, Ramadhan disambut bukan dengan kemewahan, melainkan dengan ketabahan. Dan dari ketabahan itulah, harapan kembali dinyalakan.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru