Kabar dari Aceh Tamiang, Dari Jerit Minta Tolong Sampai Jenazah yang Terpaksa Dihanyutkan
Armand - Senin, 08 Desember 2025 22:46 WIB
Raden Armand
Suasana malam hari di Aceh Tamiang.
drberita.id -Suasana mencekam masih menyelimuti langit malam di Aceh Tamiang. Padahal bencana banjir dan air bah sudah lebih tujuh hari berlangsung sejak 27 November 2025 silam.





Ribuan warga kehilangan keluarga dan harta benda. Hewan ternak juga menjadi korban ganasnya air yang meluncur sambil bersama berton-ton kayu besar.
Air bah itu melaju terus dan menabrak semua yang ada di depannya. Tak peduli, sepertinya air sedang menunjukkan amarahnya.
Seorang warga Nurdin menceritakan duka yang dialaminya. Ternyata hujan telah melanda kota sejak Selasa 25 November tak berhenti hingga puncaknya 27 November.
"Perlahan-lahan air terus naik. Jengkal perjengkal mulai Rabu soren. Listrik padam. Kami di Kota Lintang Bawah segera menuju sekolah terdekat. Sekolah ini saksi dan telah selamatkan orang kampung, ratusan orang kampung disini," kata Nurdin.
Suara minta tolong warga tak terhitung jumlahnya. Dalam suasana gelap, Nurdin bersama warga lainnya juga tak berdaya membantu mereka. Saat itu air terus tinggi dan hujan enggan berhenti.
"Kami sudah berencana menaikkan anak-anak dan perempuan ke atas bumbung sekolah jika air terus naik. Kami sudah berada di lantai dua sekolah, air sudah menutupi seluruh isi di lantai dasar sekolah. Sedangkan orang laki, pintar-pintarlah bertahan, mau berenang atau apalah," ujarnya.
"Suara minta tolong perlahan hilang satu persatu. Entah mereka selamat atau terbawa arus, saya tak tahu. Puncak air itu hadir di Kamis dini hari," katanya.
Nurdin mengaku tak bisa keluar dari tempat mengungsi sekitar 2 hari. Empat hari mereka tak mendapatkan makanan layak dan air bersih.
Bahkan Nurdin mengaku harus bersama pemuda lain nyebur ke genangan banjir untuk mencari makanan. Mereka mencari ke rumah-rumah warga, kelas sekolah dan tempat-tempat memungkinkan ada makanan.
"Saya dapat makanan sosis dan beras tergenang. Kami olah dengan air seadanya dan makan dengan nasi saja tanpa lauk. Kami tampung hujan untuk konsumsi kami, atau kami minum dengan air seadanya. Kami utamakan anak dan perempuan," ujarnya.
Jenazah di RSUD Aceh Tamiang Harus Dihanyutkan
Belasan jenazah ikut terjebak saat peristiwa banjir terjadi. Paramedis berada dalam situasi dilema. Apakah mereka harus menyelamatkan diri sendiri atau selamatkan para pasien.
Rumah sakit pun juga menjadi sasaran air bah. Peralatan medis hanyut terbawa.
"Kalian tahu, informasi yang saya dapat dari rumah sakit, ada beberapa jenazah yang terpaksa dihanyutkan saat banjir. Dengan ijin pihak keluarga yang juga tak bisa lagi mendapatkan akses buat pengurusnya. Sehingga tak ada pilihan selain melepaskan ke arus air," kata supir RSUD Aceh Tamiang, Fendy kepada drberita.id saat di posko bencana tak jauh dari Kantor Bupati Aceh Tamiang.
Seorang tim medis di Posko Yayasan Bantuan Maal (YBM) PLN, dr. Jihan Mutiara Finkan menyatakan hal serupa. Dia juga memperoleh kabar, ada sejumlah jenazah terjebak di rumah sakit. Sebab tak ada cara mengantar kepada pihak keluarga, juga karena banjir masih menggenang Aceh Tamiang.
"Awalnya saya kaget, tapi semua hal itu sudah atas persetujuan pihak keluarga. Akhirnya pihak rumah sakit dengan berat hati harus melepaskan jenazah ke arus air," ucapnya.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Prabowo Setuju Bantuan dari Luar Negeri ke Bencana Sumatra, Yonge Sihombing: Kita Apresiasi
Isak Tangis Warnai Pelepasan Guru Relawan di Desa Sekumur Aceh Tamiang: Jangan Pergi
Lebah Begantong Hibur Penyintas Bencana Ekologis Sumatra di Aceh Tamiang
Prabowonomics Institute Kirim Proposal ke 100 Foundation Terbaik Dunia Untuk Bencana Ekologis Sumatra
Puluhan Guru Muda Gelar Sekolah Rakyat Untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana di Aceh
Direktur Zakat Wakaf Kemenag Apresiasi Kinerja Dompet Dhuafa Ikut Tangani Banjir Sumatera
Komentar