Bepe: Anies Baswedan Presiden Rakyat

Medan Magnet
Redaksi - Rabu, 07 Februari 2024 08:25 WIB
Bepe: Anies Baswedan Presiden Rakyat
Poto: Istimewa
Anies Baswedan dan Bambang Priono alias Bepe.
drberita.id -Perjalanan kampanye Pilpres 2024 diberbagai daerah yang dikunjungi pasangan Capres Anies Baswedan dan Cawapres Muhaimin Iskandar semuanya diluar dugaan.

Massa membludak seperti yang terjadi di Kabupaten Deliserdang, mulai dari Bandara Kualanamu hingga Lapangan Reformasi yang berjarak 15 KM, pada Kamis 1 Februari 2024.

"Capres Anies Baswedan dan Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh bahkan terpaksa berjalan kaki sekira 2 KM untuk mencapai lokasi kampanye Lapangan Reformasi, Tembung, Percut Sei Tuan," ujar Dewan Pakar Timnas AMIN Untuk Perubahan DR. Bambang Priono dalam keterangan tertulis, Rabu 7 Februari 2024.

Bambang Priono alias Bepe mengakui banyaknya antusiasme dan histeris dari massa yang terjadi saat Anies berkampanye di Jawa Barat, Sumatera Barat, Kalimantan, Ambon, Papua, Sulawesi, Manado, dan hampir disetiap daerah.

"Di jalan-jalan, massa rela menunggu beberapa jam untuk melihat Anies," kata Bepe.

Bepe menyeritakan, tak jarang Anies berhenti, menyalami, dan berfoto dengan massa di pinggir jalan. Massa adalah masyarakat umum, lintas suku, dan agama.

"Di beberapa tempat, saya menyaksikan antusiasme masyarakat itu. Suasana yang tidak terbayangkan, seperti luapan rasa cinta, kerinduan, kehangatan, juga kerelaan. Di tepi jalan, ibu-ibu meneriakkan 'Anies Presiden..' tanpa henti," beber lulusan Doktor Ilmu Hukum Universitas Hasanuddin Makassar ini.

Begitu juga dalam acara 'Desak Anies' di berbagai kota besar di Indonesia. Anak anak muda dan mahasiswa tumpah ruah. Desak Anies merupakan format baru kampanye dalam sejarah politik Indonesia. Anies berdialog langsung dengan pemuda dan mahasiswa secara bebas tanpa batas formal. Pertanyaan apa saja dijawab Anies.

Kemampuan berdialog, berdebat, dan kualitas intlektual, lanjut Bepe, memudahkan mantan Rektor Universitas Pramadina itu untuk menjawab berbagai pertanyaan kritis. Kecerdasan emosional dan intlektual, mendekatkan Anies pada anak anak muda Generasi Z.

Anies pun menjadi model baru seorang pemimpin yang mengayomi. Seorang ayah yang dekat dengan anak-anaknya, mendidik, santun. Ia juga sebagai sahabat, pendengar yang baik atas keluhan, dan keresahan publik. Anies memberi solusi, semangat, dan kekuatan baru.

Seperti umumnya orang seusianya, Anies gagap sosial media, tidak seperti anak anak muda Generasi Z. Ketika pertama kali live tiktok, pada Jumat, 29 Desember 2023, Anies tidak paham mematikan media sosial yang sedang trend itu.

"Tapi justru ini kelebihannya. suatu yang alami dan manusiawi. Melalui live tiktok tersebut, Anies berinteraksi dengan anak anak muda di seluruh Indonesia, tanpa membedakan latar belakang sosial mereka," kata Bepe.

"Berbagai pertanyaan tiktokers dijawab Anies dalam bahasa yang mudah dimengerti dan bahkan persoalan personal, di antaranya tentang jodoh, minta ucapan selamat ulang tahun, minta didoakan segera selesai kuliah, menanyakan buku yang sebaiknya dibaca, dan juga resep sebagai pemimpin," sambung Bepe.

Di kalangan netizen, Anies tidak saja sosok calon presiden, tapi juga orang tua. Jutaan penonton yang hadir dalam dialog tiktok tersebut, tidak saja terhibur, namun juga mendapatkan ilmu.

Penggemar K-Pop, kata Bepe, kemudian memanggil Anies pun dengan sebutan Abah. Dalam tempo cepat, tagar #AbahNasional menjadi trending di platform Twitter (X) melalui akun netizen dengan nama @aniesbubble, yang menyebarkan potongan video Anies di TikTok.

Penggunaan kata 'bubble' terinspirasi dari platform yang dipakai penggemar idola KPop. Potongan potongan video Anies yang diunggah @aniesbuble merupakan interaksi tanya-jawab dari penonton yang menyaksikan siaran langsung. Tidak ada soal visi-misi dan janji politik. Pada Jumat 29 Desember 2023, akun @aniesbubble di X yang menggunakan emoji burung hantu dan memakai bahasa Korea.

Munculnya fandom K-pop berupa akun @aniesbubble itu sangat menarik perhatian netizen. Uniknya, akun ini murni inisiatif penggemar K-Pop, tidak terkait dengan tim Capres Anies Muhaimin. Ini menarik media internasional, sebagai fenomena baru Indonesia.

Pada 4 Januari 2024, lanjut Bepe, BBC News mewawancarai pemilik akun @aniesbubble, menanyakan alasan membuat akun @aniesbubble. Anak muda, mahasiswi salah satu universitas ini, mengatakan semua berawal dari iseng. Mereka tidak dibayar, bahkan mereka mengumpulkan dana membuat videotron dan foodtruck.

Panggilan Abah pada Anies Baswedan menyebar cepat ke seluruh Indonesia, tidak hanya di sosial media, tapi juga di masyarakat umum. Dalam berbagai kunjungan, di antaranya di Sorong, Batam, Banten, dan Medan, masyakarat memanggil nama Abah. 'Abaaaah, foto Abaaaah ...'

Medan Mangnet

Menurut Bepe, Anies Rasyid Baswedan adalah medan magnet, yang dengan cepat menarik partikel. Kecerdasan, kematangan emosional, prestasi, kesantunan, dan kharismatik, merupakan daya tarik sangat kuat.

Tidak banyak tokoh seperti itu. Ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang ikhlas. Hati dan jiwa yang bersih mampu menggerakkan, layaknya magnet. Ini tidak bisa dibuat-buat, apalagi disengaja untuk meraih simpati. Ia datang dari dalam.

Posisi tegas Anies dan Muhaimin dalam kontestasi Pilpres, yakni perubahan, juga menjadi magnet lain bagi publik. Ini disebut Firewall - pagar api yang membedakannya dengan dua kontestan lain, terutama Prabowo Subianto-Gibran, yang mengambil posisi sebagai penerus kebijakan Presiden Jokowi saat ini.

Anies merasakan penguasa tiada henti menekannya jauh sebelum Pilkada DKI Jakarta 2019. Tekanan semakin keras ketika Anies meraih posisi Gubernur DKI Jakarta. Ia seperti sansak, ia dibully dan fitnah. Anies berkali-kali pula berurusan dengan KPK, meski sama sekali tidak ditemukan kesalahannya. Bahkan, sebelum pendaftaran calon presiden, ramai isu yang menyebutkan Anies akan dijadikan tersangka.

Karakter Anies coba dihancurkan dan dibunuh. Pada masa kampanye Pilpres, Anies juga dipersulit. Lokasi kampanye yang sudah disepakati, tiba tiba tidak bisa digunakan dengan berbagai alasan.

Rakyat tidak buta informasi. Berbagai upaya menggagalkan Anies sampai pada mereka. Tidak itu saja, dalam skala berbeda mereka juga merasakan situasi yang tidak nyaman. Tekanan aparat untuk tidak memilih Anies, juga pada Capres Ganjar Pranowo-Mahfud MD, memicu ketidaksukaan mereka pada penguasa. Mereka merasakan hak hak konstitusional, kebebasan memilih yang diatur konstitusi, telah dilanggar.

Situasi ini semakin diperkeruh dengan munculnya politik dinasti, pemihakan, dan ketidakadilan yang terbuka. Ketika demokrasi tidak lagi menjadi jalan dalam bernegara, hukum jadi alat kekuasaan, hak hak rakyat dipinggirkan, maka akal sehat akan muncul. Hari hari akhir ini menjelaskan, kalangan intlektual, pers, dan kampus dengan akal sehat memperlihatkan sikap yang tegas, mengkritisi pemerintah berkuasa dan mendesak Presiden Jokowi kembali ke jalur demokrasi.

Kondisi politik saat ini dalam ruangan pengab. Kalangan intlektual, kampus, dan pers telah menemukan jalannya, melepaskan diri dari ruang pengab, mengembalikan demokrasi yang diperjuangkan ketika menumbangkan Orde Baru.

Berbeda dengan rakyat. Mereka tanpa suara mengusung perubahan. Mereka hadir berbondong-bondong dalam setiap kampanye. Ini dapat pula dilihat sebagai bentuk keinginan untuk perubahan itu. Dan mereka menyatukan diri dengan pembawa bendera perubahan.

Anies pembawa bendera perubahan tersebut. Antusiasme publik dengan berbagai latar belakang sosial budaya, dan agama, menjadikan Anies sebagai tumpuan perubahan. Ia telah menjadi milik rakyat, pemimpin rakyat yang tertekan.

"Pemilihan Presiden sebentar lagi, menghitung hari. Namun di banyak wilayah Indonesia, rakyat dengan suara lantang memekikkan, 'Anies Presiden rakyat Indonesia'," tutup Bepe.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru