Melihat Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi 98

Redaksi - Kamis, 21 Mei 2026 13:05 WIB
Melihat Gerakan Mahasiswa Pasca Reformasi 98
Poto: Ilustrasi
Demo mahasiswa

Oleh: Charles Butar Butar (Mantan Aktivis Mahasiswa Unika St. Thomas Medan)


drberita.id -Hari ini tepatnya 28 tahun yang lalu, ribuan mahasiswa bersorak gembira atas pengunduran diri Presiden Soeharto.


Perjuangan mahasiswa diseluruh Indonesia yang mendedikasikan waktu, tenaga, materi, dan pikirannya untuk menghentikan kekuasaan Pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto yang berkuasa selama tiga puluh dua tahun akhirnya berhasil ditumbangkan.

Orde baru telah selesai, digantikan dengan Orde Reformasi yang kita kenal sekarang.

Perjuangan panjang ahasiswa Indonesia mencapai puncaknya. Ada harapan, ada kegembiraan, ada semangat yang tumbuh disanubari mahasiswa saat itu.

Mengikuti sejarah berdirinya periode perjuangan mahasiswa masa reformasi ini lebih nyaman disebut dengan Aktivis 98. Sama seperti Aktivis 66 dan Aktivis 74.

Euforia tejadi, banyak kelompok kelompok di masyarakat yang mengadukan persoalannya kepada mahasiswa. Kelompok kelompok masyarakat ini berharap agar mahasiswa mau membantu persoalan persoalan yang mereka hadapi.

Keinginan kelompok kelompok masyarakat ini disambut dengan baik oleh mahasiswa dengan melakukan pendampingan pendampingan terhadap mereka.

Pendampingan yang dilakukan oleh mahasiswa tidak lagi hanya sebatas demonstrasi namun sudah sampai tahap pengorganisiran rakyat untuk melawan penindasan yang mereka alami.

Banyak yang berhasil, namun ada juga yang masih berjuang hingga sampai saat ini.

Aktivis 98, yang ditempah oleh represi, diskusi, dan bacaan bacaan kiri serta minus teknologi, tidak pernah berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari pendampingan yang dilakukan terhadap rakyat.

Bermodalkan semangat dan uang kuliah yang digunakan untuk ongkos, banyak aktivis mahasiswa keluar dari kampus pergi kebasis-basis rakyat untuk berjuang bersama.

Hari berganti, kini muncul generasi baru yang mengambil posisi yang pernah dijalani oleh para Aktivis 98. Namun dalam pergerakannya sangat jauh dari gerakan mahasiswa pada dekade awal reformasi.

Pergerakan Mahasiswa saat ini cenderung pragmatis. Banyak isu yang dibangun oleh mahasiswa saat ini, namun sangat jarang mereka mengawalnya sampai tuntas. Tidak seperti Aktivis Mahasiswa 98 yang mengawal perlawanan sampai tumbangnya rezim yang 32 tahun bertahan.

Kecenderungan gerakan mahasiswa saat ini yang tidak mengawal perjuangannya memberikan kesan bahwa mahasiswa saat ini gampang dikondisikan dengan materi.

Di samping itu juga, kebanyakan gerakan mahasiswa saat ini sangat ekslusif. Isu yang dibangun kebanyakan berkutat pada kasus korupsi para kepala dinas atau pejabat.

Tidak seperti Aktivis 98 yang berjuang bersama rakyat, seperti pemogokan massal supir angkot, penutupan Indorayon, bentrok di Kantor PTPN 2 Tanjung Morawa untuk memperjuangkan Tanah Milik Rakyat yang dirampas, bentrok dengan Pamong Praja karena menggusur pedagang di Simpang Pemda Tanjung Sari dan lainnya.

Penindasan, pembodohan, perampasan hak rakyat masih banyak di negeri ini.

Harapan pada generasi saat ini sangat besar. Semoga mahasiswa Indonesia saat ini, khususnya mahasiswa Sumatera Utara yang sudah jauh meninggalkan ruh gerakannya kembalilah kepada rakyat, belajarlah dari rakyat.

Bentuklah benerasi aktivis kalian. Apakah itu aktivis mobil legend, atau aktivis free fire atau apapun namanya, abdikanlah bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat

Zaman Bergerak, Tulis Thakesi Shiraishi. Tapi bagi Kita, Apakah Geraknya Maju atau Mundur. Tergantung Mahasiswa saat ini.

Mengutip kata kata sang Revolusioner Sejati, Ernesto Che Guevara. Patria O Muerte. Hasta La Victoria Siempre.

Selamat Hari Reformasi buat Kawan Kawan Aktivis 98.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru