Bahasa Indonesia Makin Diminati Warga Asing di Arab Saudi

Artam - Sabtu, 08 Februari 2020 10:46 WIB
Bahasa Indonesia Makin Diminati Warga Asing di Arab Saudi
istimewa
Konsul Jenderal RI Jeddah, Eko Hartono bersama warga asing di Arab Saudi.
DRberita | Selama 13 tahun Program Kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang digagas Konsulat Jenderal Republik Indonesia Jeddah, Arab Saudi semakin diminati. Program tersebut telah meluluskan puluhan peserta dari berbagai negara, khususnya warga Arab Saudi.

Pelaksana Fungsi Pensosbud-1 KJRI Jeddah, Agus Muktamar mengatakan minat peserta mengikuti kursus juga terus bertambah dari tahun ke tahun. Untuk 2020 saja yang masih dibuka tahap pendaftaran, sudah ada 120 warga negara asing ingin mengikuti program tersebut.

"Namun karena keterbatasan ruang kelas, panitia penyelenggara hanya menerima 59 peserta yang terdiri dari 40 peserta laki-laki dan 19 orang perempuan," kata Agus dalam keterangan tertulis, Kamis 6 Februari 2019.

Konsul Jenderal RI Jeddah, Eko Hartono, berharap BIPA dapat menjadi program yang semakin mengeratkan hubungan antara Indonesia dengan Saudi di segala bidang. Khususnya dalam bidang kebudayaan.

"Ini suatu forum pembelajaran yang baik, tidak hanya Bahasa Indonesia tapi juga culture (budaya). Ini adalah tempat untuk menimba ilmu tentang Indonesia," kata Eko.

Eko mengaku senang karena BIPA dapat menambah jaringan persahabatan antara KJRI dengan masyarakat Jeddah dan kota-kota lainnya.

Selain itu, BIPA juga menjadi sarana untuk mengenalkan budaya, kuliner, dan keindahan alam Indonesia kepada masyarakat Saudi.

"Dengan pemahaman yang lebih baik tentang Indonesia, tentang bahasa, tentang budaya Indonesia, insya Allah kita semakin dekat, semakin saling menghormati," kata Eko.

Selanjutnya, Eko mengakui banyaknya WNI yang berkunjung ke Arab Saudi baik untuk haji, umroh, belajar, maupun bekerja mendorong peningkatan interaksi antara masyarakat dua negara.

Tak hanya itu, jumlah kunjungan warga Arab Saudi ke Indonesia untuk expo maupun wisata juga mengalami peningkatan.

"Intensitas interaksi ini perlu diperkuat dengan pemahaman tentang bahasa dan budaya masing-masing, agar sikap saling memahami terbangun dengan baik dan persepsi negatif terhadap satu sama lain bisa dihindari," papar Eko. (art/drc)

SHARE:
Editor
:
Sumber
: dream.co.id
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru