Rayakan Hari Hutan dan Air Dunia, Banyak Kegiatan Alam di Aras Napal

- Selasa, 29 Maret 2022 10:13 WIB
Rayakan Hari Hutan dan Air Dunia, Banyak Kegiatan Alam di Aras Napal
Raden Armand
Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Balai Besar TNGL, Fitriana Saragih.


drberita.id | Sejumlah komunitas mendapatkan pengalaman baru pada pembekalan ilmu konservasi di Aras Napal Camp, 26-27 Maret 2022. Kegiatan ini dalam rangka peringatan Hari Air dan Hari Hutan sedunia yang jatuh pada 21 Maret dan 22 Maret.

Adalah Komunitas Sahabat Alam Lestari (SALi) dan Kelompok Sadar Wisata (Darwis) Aras Napal yang menggelarnya di Aras Napal Conservation Camp (ANCC) 2022 di Desa Bukit Mas, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara.

Conservation camp ini mengusung beragam kegiatan konservasi seperti lintas alam, menginap di tenda, dialog konservasi, penayangan film dokumenter lingkungan hidup, hingga menanam pohon.
Cross-country sejauh 3,5kilometer melintasi kawasan ekosistem leuser (KEL) termasuk jalur ekowisata Aras Napal 242.

Tak kurang 100 peserta ambil bagian membangun kekompakan dan mempelajari ekowisata di Aras Napal, Konservasi Air dan Taman Nasional Gunung Leuser. Kemudian para peserta mendapat pembekalan tentang konservasi dari Esra Barus, Polisi Hutan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara (Sumut), Fitriana Saragih, Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), dan M Indra Kurnia Deputy Director Program Yayasan Orangutan Sumatera Lestari- Orangutan Information Center (YOSL-OIC).

Indra mengatakan salah satu peran generasi muda milenial dalam upaya pelestarian alam yakni melakukan hal sederhana. Namun, berdampak besar yang bersifat preventif (pencegahan) terhadap perusakan hutan, dan keanekaragaman hayati.

"Contohnya tidak melakukan penebangan pohon apalagi mengambil tumbuhan dan satwa liar dari habitat aslinya (hutan), saat melakukan aktivitas adventure seperti pendakian atau berkemah.
Dan, tidak memelihara satwa liar apalagi yang dilindungi dengan dalih sebagai komunitas pencinta satwa, yang ternyata malah bisa menjadi bagian dari mata rantai perburuan dan perdagangan satwa liar," ujarnya.

“Saat mengunjungi suatu daerah dalam melakukan aktivitas pendakian atau berkemah, sebisa mungkin dibarengi dengan kegiatan sosialisasi ke sekolah atau masyarakat di sekitar hutan, dan pelestarian alam atau melakukan penanaman pohon yg bermanfaat untuk masyarakat,” kata Indra.

Rahmat Suryadi, Direktur Sumatra Tropical Forest Journalism (STFJ) menyampaikan bahwa kegiatan ini juga penting diikuti oleh jurnalis, untuk pembekalan ilmu pengetahuan tentang konservasi, sebagai bahan untuk menulis dan mengampanyekan pelestarian hutan dan air, bagi keberlangsungan makhluk hidup di bumi.

"Tak hanya peserta, jurnalis juga penting mendapatkan pembekalan ilmu ini. Karena melalui media, para jurnalis bisa ikut mengampanyekan perlunya menjaga hutan dan air untuk kita bersama. Karena kita hidup tak hanya sendiri, tapi bersama mahkluk yang lain," katanya.

SHARE:
Editor
: Armand
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru