Kisah Mak Painah, Dari Jualan Bunga dan Bersihkan Makam Demi Aditya Herlambang Sekokah

Redaksi - Kamis, 28 Mei 2026 23:45 WIB
Kisah Mak Painah, Dari Jualan Bunga dan Bersihkan Makam Demi Aditya Herlambang Sekokah
Poto: Istimewa
Mak Painah, warga Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah.
drberita.id -Dari salah satu rumah sederhana di Kelurahan Pucangsawit, Kota Surakarta, Jawa Tengah, hidup seorang wanita tua bersama anak asuhnya. Hidup miskin bukan menjadi persoalan bagi Mak Painah.

Dikutip dari kemensos.go.id, Kamis 28 Mei 2026, wanita 73 tahun itu keluar rumah menuju area pemakaman. Pekerjaan berjualan bunga dan membersihkan makam, dari itu ia bisa membesarkan anak asuhnya Aditya Herlambang.

Sejak suaminya meninggal, Mak Painah hidup sebatang kara bersama sang anak asuh, Aditya yang ia besarkan sejak bayi. Penghasilannya tidak menentu. Kadang hanya cukup untuk makan hari itu saja. Kadang lebih sedikit lagi, bahkan tidak sampai Rp.10 ribu.

Setiap pagi, ia memungut bunga kamboja yang gugur serta membersihkan makam yang dikunjungi peziarah. Pekerjaan yang mungkin terlihat sederhana, tapi dari situlah ia bertahan hidup dan membesarkan Aditya.

Awalnya, Aditya hanya dititipkan sebentar. Tapi orangtua kandungnya tidak pernah kembali, dan sejak itu Mak Painah mengurus semua kebutuhan hidup Aditya.

"Sudah saya anggap anak sendiri," ucap Mak Painah dengan senang.

Aditya tumbuh di tengah kehidupan yang serba sederhana. Ia bisa bersekolah, serta terpenuhi kebutuhan lainnya di tengah keterbatasan.

Saat Aditya lulus SMP, Mak Painah sempat bingung. Ia tidak tahu bagaimana harus melanjutkan biaya sekolah anak asuhnya. "Waktu itu saya benar-benar takut dia tidak bisa sekolah lagi karena saya tidak punya biaya," katanya.

Kemudian datang kabar yang membuatnya lega. Aditya diterima di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta.

"Alhamdulillah, saya senang sekali. Sampai nangis karena dia (Aditya) bisa sekolah tanpa biaya, gratis," ujarnya sambil mengusap air mata.

Bagi Mak Painah, Aditya bukan hanya anak asuh. Kehadirannya menjadi alasan untuk tetap bertahan menjalani hidup di usia senja. Mak Painah pun merasakan perhatian pemerintah banyak menopang hidupnya.

Ia juga menerima bantuan dari Kementerian Sosial dalam Program Keluarga Harapan (PKH), lalu pada 2025, ia berhak menerima bantuan sembako dan Yatim Piatu (YAPI) yang membantu kebutuhan hariannya.

"Saya ingin melihat Aditya tumbuh besar, sekolahnya selesai, dan hidupnya lebih baik dari saya," ujar Mak Painah.

Kisah Mak Painah ini bukan hanya tentang kemiskinan, atau tentang seorang lansia yang bekerja di antara makam. Ini adalah kisah tentang ketangguhan dan harapan hidup seorang manusia.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru