Negara Hadir Untuk Rakyat, Bukan Rakyat Untuk Negara, SMI: Kehidupan Rakyat Semakin Tercekik
Redaksi - Sabtu, 30 Agustus 2025 20:27 WIB
Poto: Istimewa
Perlawanan rakyat terhadap negara.
Persoalan yang tidak hanya masalah ekonomi yang salah urus, tetapi juga terjebak dalam budaya kekuasaan yang korup dan kolutif, tidak lagi dilakukan dalam praktik terselubung, melainkan sudah menjadi tontonan sehari-hari.
Seolah politik adalah milik kalangan ningrat. KKN juga dijalankan dengan rasa kebal hukum, yang terwariskan dari generasi ke generasi dan dipertontonkan secara terbuka tanpa rasa bersalah.
"Lebih menyakitkan lagi, suara dan kritik rakyat dilecehkan, dengan berbagai pernyataan sejumlah pejabat dan anggota DPR RI yang merendahkan rakyat, seperti ada perbedaan kasta antara rakyat dan kelompok yang berkuasa di pemerintahan," serunya.
SMI, kata Kristian, anggota DPR dan Pejabat Negara yang berbicara seenaknya padahal mereka menikmati hasil dari pungutan pajak, berupa fasilitas mewah: mobil dinas, rumah dinas, gaji tinggi, tunjangan besar, dan akses privilese.
"Sementara rakyat diminta bersabar dalam kesulitan yang entah kapan berakhir penyelesainnya," ucapnya.
Demonstrasi sebagai jeritan kesulitan dan beratnya beban dari rakyat, sejatinya kata Kristian, tidak seharusnya dijawab dengan wajah keras negara, apalagi aparat keamanan diturunkan bukan untuk menjaga, melainkan untuk menaklukan rakyat.
"Gas air mata, pentungan, peluru karet, dan intimidasi seperti menjadi bahasa resmi negara. Ini sangat brutal dan bahaya," tegasnya.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Tokoh Sumut Dukung Pemekaran Daerah Sejalan Dengan Program Kodam Untuk Pertahanan Negara
Puluhan Guru Muda Gelar Sekolah Rakyat Untuk Pulihkan Trauma Anak Korban Bencana di Aceh
7 Perusahaan Penyebab Bencana Sumut: Negara Harus Bertindak dan Menghukum Para Pelanggar
Harga Token Listrik PLN Sengat Ekonomi Rakyat Hingga 35 Persen
PICTA Dorong Reformasi Polri Kembalikan Kepercayaan Rakyat ke Negara
Rugikan Negara Puluhan Miliar, Kejati Sumut Tahan Mantan Direktur Teknik Pelindo I dan Direktur Dok Perkapalan Surabaya
Komentar