Syaiful Syafri: Urgensi Peningkatan Kualitas Pendidikan Indonesia Perlu Perhatian
Anggaran dan Peraturan Sudah Tersedia
Redaksi - Minggu, 10 November 2024 19:41 WIB
Poto: Istimewa
Syaiful Syafri
drberita.id -Beberapa tahun belakangan ini beberapa ilmuan atau tokoh peduli pendidikan membuat tulisan di media sosial tentang krisis pendidikan di Indonesia. Malah akhir akhir ini memunculkan berbagai berita tentang ketidakharmonisan antara guru, siswa dan orang tua, hingga kasus salingmelapor ke aparat penegak hukum terjadi.
Sisi lain, sejumlah lembaga survei yang membidangi pendidikan mengklaim bahwa sistem pendidikan di Indonesia di tingkat Negara Asean masuk rengking 4 setelah Singapura, Malaysia dan Thailand, serta masuk di peringkat 54 dari total 77 negara di dunia.
Menyikapi berbagai masalah dan tantangan di dunia pendidikan, Syaiful Syafri, sosok tokoh pendidikan di Sumatera Utara menjelaskan bahwa ada beberapa urgensi yang perlu disikapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, di samping kerja sama dengan lembaga pendidikan internasional yang ada di Indonesia.
"Setidaknya ada beberapa urgensi yang perlu disikapi oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, terkhusus para dosen di tingkat perguruan tinggi serta para guru, orang tua dan siswa di tingkat sekolah dasar, menengah, dan atas, yakni urgensi kepribadian yang unggul dari siswa atau mahasiswa," ungkap Syaiful Syafri dalam keterangan tertulis, Minggu 10 November 2024.
Untuk kepribadian yang unggul, lanjut Kadis Pendidikan Sumut 2010 - 2014, ini peran orang tua, guru atau dosen menjadi dominan dalam proses belajar dan mengajar, tidak sebatas materi pembelajaran, tetapi memberi motivasi agar siswa atau mahasiswa disiplin, beretika, percaya diri, berani berargumentasi dan memiliki cita cita di samping mencintai falsafah bangsa dan negara Indonesia.
Urgensi lain adalah perkembangan tehnologi digital yang harus diketahui sosok pengajar dan siswa atau mahasiswa, di samping urgensi yang berhubungan dengan kompetensi lulusan yang dibutuhkan dunia kerja, mengandung arti proses belajar mengajar tidak sebatas teori, atau membaca buku yang ada, tanpa penelitian, dan praktek lapangan. Sementara siswa atau mahasiswa tidak paham kebutuhan dunia kerja.
"Menyadari kualitas pendidikan kita rendah, berarti perlu urgensi percepatan dalam menghadapi persaingan global, dan ini sudah didukung oleh Presiden Prabowo Subianto, bahwa peningkatan kualitas pendidikan menjadi salah satu program prioritas kepemimpinannya, dan proses pendidikan ke depan menggunakan berbagai sarana tehnolog," tegas Syaiful.
"Bagaimana di Sumut yang kita ketahui dari berbagai media diurutan rengking 27 di Indonesia..... ?, kembali berpulang kepada masing masing kebijakan pemerintah daerah, juga tentunya kualitas staf pengajar dan motipasi guru, dosen dan orang tua, agar para siswa atau mahasiswa memiliki masa depan, bukan menjadi tenaga kerja yang selalu dipenantian," sambungnya.
Padahal, kata Syaiful, di Sumut memiliki ilmuan yang handal dan telah teruji kompetensinya dalam dunia pendidikan, seperti DR. Parapat Gultom, DR. Indra Nasution, DR. Ihwan Azhari, dan sejumlah ilmuan lainnya yang bisa menjadi narasumber, tanpa banyak teori.
"Yang pasti, pemerintah pusat dari segi anggaran dan peraturannya sudah tersedia, lembaga pendidikan internasional seperti Usaid. Jika AS, Jepang, Australia dan Negara Uni Eropah sudah memberi dukungan, demikian juga dengan dunia usaha melalui beasiswa dan sejenisnya, lagi lagi tinggal kualitas staf pengajar dan komitmen pemerintah daerah," tutup Syaiful.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Pelantikan TP PKK Medan 2025-2030: Pesan Walikota Jauhkan Gadget dari Dalam Rumah Demi Pendidikan Anak
FABEM Dukung Tes Urine Anggota Polri di Seluruh Indonesia, Harus Ada Sanksi Tegas
YRKI Minta Prabowo Buktikan Janji Asta Cita Indonesia Sehat: Pembangunan RSUD Tipe A Harus Terwujud
Penulis Yonge Sihombing Luncurkan Buku Prabowonomics Versi Indonesia dan Inggris
Proyek Pendidikan di Kota Tebingtinggi Bermasalah, Kepala Dinas dan PPTK Wajib Diperiksa
Utang Indonesia Capai Rp. 9.138 Triliun per Juni 2025
Komentar