Anyaman Khas Melayu Pesisir Rambah Pasar Internasional
Artam - Sabtu, 28 September 2019 00:32 WIB
drberita/istimewa
Anyaman pandan khas melayu pesisir Pantai Cermin.
DRberita | Setelah menjadi bagian dari produk unggulan Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, kerajinan anyaman pandan khas Pantai cermin, mulai mengepakan sayapnya hingga keluar negeri.
Hal ini ditandai dengan dikirimnya beberapa olahan produk anyaman pandan yang dikerjakan oleh pengerajin asal Pantai Cermin ke beberapa Negara Asean, seperti Malaysia dan Singapura. Tak tanggung-tanggung banyak permintaan dari butik-butik ternama di luar negeri.
Eva Harlia (38) didampingi Mei Dirita, ketua kelompok pengerajin anyaman Kria Pandan dan Purun, Pantai Cermin mengungkapkan, bahwa kerajinan anyaman ini sudah lama dilakoni oleh keluarganya dan masyarakat melayu Pantai Cermin. Kerajinan anyaman ini sudah menjadi bagian kebudayaan masyarakat pesisir.
Awalnya pandan ini hanya dianyam untuk dijadikan alas tikar. Sebagai wadah anggota keluarga untuk berkumpul agar tidak kotor dan menghindari dinginnya lantai. Secara berlahan dengan kemajuan zaman, kerajinan anyaman pandan ini berkembang manjadi bagian yang tak terpisahkan bagi puak melayu.
Untuk saat ini, sekarang produk kerajianan anyaman ini sudah berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Variasi produknya juga sudah berbagai macam, seperti tas, dompet, sendal, kotak tisu, tikar adat, tas laptop dan sebagainya.
"Dengan isu Go Green, barang-barang dari pandan ini sangat diminati negeri luar karena ramah lingkungan serta punya nilai seni yang tinggi," ungkap pengerajin penerima OVOP Award dari Kementerian Perindustrian ini.
Perkembangan anyaman pandan khas melayu Pantai Cermin ini tidak lepas dari kerja sama dan pendampingan yang dilakukan oleh berbagi pihak diantaranya dari Pemkab Serdang Bedagai, Pemprov Sumut melalui dinas terkait, juga kalangan kampus dan akademisi seperti dari Universitas Negeri Medan.
"Kami bersyukur banyak lembaga serta dinas yang memberi perhatian kepada kami, terutama pihak kampus yang melakukan pendampingan. Sehingga budaya khas anayaman Melayu Pesisir Pantai Cermin tidak hanya menjadi sejarah, tapi mampu bersaing dengan produk-produk unggulan lainnya. Besar harapan kami tidak hanya dalam pendampingan usaha, teknologi tepat guna dan pengembangan usaha, akan tetapi pihak kampus Unimed harus mau menjembatani Pantai Cermin menjadi kawasan wisata budaya dan kampung wisata kerajinan anyaman," ucap Eva Harlia, wanita pelopor anyaman Melayu Modren di Sumatera Utara.
Ketua Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) DRPM Kemenristek Dikti Irfandi didampingi anggota Adek Cerah dan Taufik Hidayat, Jumat 27 September 2019 mengungkapkan, bahwa Unimed berkomitmen mengangkat budaya khas melayu yang memiliki potensi sebagai produk yang mampu bersaing mewakili Provinsi Sumatra Utara di pentas internasional.
"Program ini merupakan program yang berkelanjutan, dilaksanakan mulai dari maping potensi, pengambilang sampling dan data, hingga analisis kebutuhan pendampingan. Tahap pertama kita fokus pada penggunaan teknologi tepat guna untuk menggantikan sistim manual, desain inovasi produk, serta pembenahan manajemen kelompok," terang Irfandi.
Saat ini juga, kata Irfandi, mulai ditingkatkan teknologi untuk luaran tidak hanya tikar duduk, akan tetapi produk-produk yang diminati pasar. Pendaftaran ijin usaha di Kementerian Koperasi dan UKM juga dilakukan sesegeranya. "Tak kalah penting juga pemasaran dengan sistem online berbasis e-comerce," ungkap Senator FMIPA Unimed ini.
Unimed dan DRPM Kemenristek Dikti akan terus berkomitmen memberikan pendampingan dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) kepada UMKM dan aktivitas perekonomian rakyat dengan target utama adalah UMKM mampu naik kelas dan menjadi pilar perekonomian riil di Indonesia.
Hal ini ditandai dengan dikirimnya beberapa olahan produk anyaman pandan yang dikerjakan oleh pengerajin asal Pantai Cermin ke beberapa Negara Asean, seperti Malaysia dan Singapura. Tak tanggung-tanggung banyak permintaan dari butik-butik ternama di luar negeri.
Eva Harlia (38) didampingi Mei Dirita, ketua kelompok pengerajin anyaman Kria Pandan dan Purun, Pantai Cermin mengungkapkan, bahwa kerajinan anyaman ini sudah lama dilakoni oleh keluarganya dan masyarakat melayu Pantai Cermin. Kerajinan anyaman ini sudah menjadi bagian kebudayaan masyarakat pesisir.
Awalnya pandan ini hanya dianyam untuk dijadikan alas tikar. Sebagai wadah anggota keluarga untuk berkumpul agar tidak kotor dan menghindari dinginnya lantai. Secara berlahan dengan kemajuan zaman, kerajinan anyaman pandan ini berkembang manjadi bagian yang tak terpisahkan bagi puak melayu.
Untuk saat ini, sekarang produk kerajianan anyaman ini sudah berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman. Variasi produknya juga sudah berbagai macam, seperti tas, dompet, sendal, kotak tisu, tikar adat, tas laptop dan sebagainya.
"Dengan isu Go Green, barang-barang dari pandan ini sangat diminati negeri luar karena ramah lingkungan serta punya nilai seni yang tinggi," ungkap pengerajin penerima OVOP Award dari Kementerian Perindustrian ini.
Perkembangan anyaman pandan khas melayu Pantai Cermin ini tidak lepas dari kerja sama dan pendampingan yang dilakukan oleh berbagi pihak diantaranya dari Pemkab Serdang Bedagai, Pemprov Sumut melalui dinas terkait, juga kalangan kampus dan akademisi seperti dari Universitas Negeri Medan.
"Kami bersyukur banyak lembaga serta dinas yang memberi perhatian kepada kami, terutama pihak kampus yang melakukan pendampingan. Sehingga budaya khas anayaman Melayu Pesisir Pantai Cermin tidak hanya menjadi sejarah, tapi mampu bersaing dengan produk-produk unggulan lainnya. Besar harapan kami tidak hanya dalam pendampingan usaha, teknologi tepat guna dan pengembangan usaha, akan tetapi pihak kampus Unimed harus mau menjembatani Pantai Cermin menjadi kawasan wisata budaya dan kampung wisata kerajinan anyaman," ucap Eva Harlia, wanita pelopor anyaman Melayu Modren di Sumatera Utara.
Ketua Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPUD) DRPM Kemenristek Dikti Irfandi didampingi anggota Adek Cerah dan Taufik Hidayat, Jumat 27 September 2019 mengungkapkan, bahwa Unimed berkomitmen mengangkat budaya khas melayu yang memiliki potensi sebagai produk yang mampu bersaing mewakili Provinsi Sumatra Utara di pentas internasional.
"Program ini merupakan program yang berkelanjutan, dilaksanakan mulai dari maping potensi, pengambilang sampling dan data, hingga analisis kebutuhan pendampingan. Tahap pertama kita fokus pada penggunaan teknologi tepat guna untuk menggantikan sistim manual, desain inovasi produk, serta pembenahan manajemen kelompok," terang Irfandi.
Saat ini juga, kata Irfandi, mulai ditingkatkan teknologi untuk luaran tidak hanya tikar duduk, akan tetapi produk-produk yang diminati pasar. Pendaftaran ijin usaha di Kementerian Koperasi dan UKM juga dilakukan sesegeranya. "Tak kalah penting juga pemasaran dengan sistem online berbasis e-comerce," ungkap Senator FMIPA Unimed ini.
Unimed dan DRPM Kemenristek Dikti akan terus berkomitmen memberikan pendampingan dan pengembangan teknologi tepat guna (TTG) kepada UMKM dan aktivitas perekonomian rakyat dengan target utama adalah UMKM mampu naik kelas dan menjadi pilar perekonomian riil di Indonesia.
DRPM Kemenristek Dikti dalam kesempatan itu penyerahan alat teknologi tepat guna mesin pemipih atau pelurut pandan, mesin jahit pandan pada masing-masing pengerajin dan purun. Serta penyerahan sertifikat ijin usaha dari Kementerian Koperasi dan UKM kepada pengerajin anyaman pandan di Kecamatan Pantai Cermin. (art/drb)
SHARE:
Editor
: Artam
Sumber
: Rilis Pers
Tags
Berita Terkait
Proyek Lapangan Tenis Unimed Dilaporkan ke Polda Sumut: Selisih Nilai Kontrak 22 Persen
Kanwil Kemenag Sumut Gelar Pembinaan LAZ 2025 di Pantai Cermin
PKM Unimed Lakukan Pendampingan Pemanfaatan APE Berbasis Musik Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Dosen FIB USU Melakukan Pengabdian untuk Pengembangan Masakan Melayu di Pantai Cermin
PFI Medan Bahas Soal Pelatihan Jurnalistik saat Audiensi dengan Unimed
Dosen Unimed Dr. Novita Raih Penghargaan Pelatih Wushu Terbaik
Komentar