Bank Sumut Posisi 6 dari Seluruh BPD se Indonesia

Pertahankan Aset Rp 41 Triliun di Kuartal Pertam Maret 2023
Redaksi - Kamis, 13 April 2023 20:10 WIB
Bank Sumut Posisi 6 dari Seluruh BPD se Indonesia
Muhammad Artan
Arieta Arianti

drberita.id -Selama kuartal pertama di tahun 2023 ini, tercatat beragam pencapaian diperoleh PT. Bank Sumut. Salah satunya, berhasil mempertahankan aset yang berjumlah Rp 41 triliun.

Direktur Keuangan dan Teknologi Informasi (KTI) Bank Sumut Arieta Arianti mengatakan pihaknya mengalami peningkatan aset sebesar 0,4% atau setara dengan Rp16 miliar. Ini artinya Bank Sumut berhasil mempertahankan asetnya berjumlah Rp41 triliun.

"Dari aset ini, Bank Sumut berhasil menduduki posisi ke 6 dari seluruh Bank Pembangunan Daerah (BPD) di seluruh Indonesia. Meskipun, capaian tersebut mengalami penurunan tipis dari yang sebelumnya berhasil merebut posisi ke 5," ungkap Arieta Arianti didampingi Plt. Dirut Hadi Sucipto, dan Direktur Kepatuhan Eksir dalam Public Expose Kinerja PT. Bank Sumut Triwulan I tahun 2023 di Cambridge Hotel, Medan, pada Rabu 12 April 2023.

"(Penurunan peringkat) Ini lebih karena utilisasi anggran di tahun kemaren yang cukup besar. Sehingga mempengaruhi dana pihak ketiga (DPK) yang pada akhirnya mempengaruhi total aset yang ada. Namun secara umum, total aset kita bertumbuh," sambungnya.

Dari sisi kredit, secara year on year (yoy) performa kredit Bank Sumut meningkat 11,1% atau setara dengan Rp 2,836 triliun. "Ini merupakan capaian yang cukup menggembirakan bagi Bank Sumut," kata Arieta.

Dikarenakan posisi Bank Sumut menempati posisi 5 dari seluruh BPD se Indonesia, yaitu dengan mencatatkan total kredit dan pembiayaan sebesar Rp 27,3 triliun. Dan dari sisi komposisi, kredit produktif Bank Sumut juga berhasil bertumbuh, walaupun kredit konsumsi masih mendominasi.

Begitu pun, Arieta mengklaim hal itu sejalan dengan komitmen Bank Sumut untuk menumbuhkan kredit produktifnya. "Per Maret kita sudah berhasil mencapai komposisi di 45% (kredit produktif), yang sebelumnya di tahun lalu itu masih ada di 40%," terangnya.

Arieta juga mengatakan Bank Sumut selalu berkomitmen untuk mencapai taget penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) yang secara yoy per Maret 2022 lalu berjumlah Rp 1,3 triliun. Sehingga outstanding pembiayaan KUR pun meningkat pula.

"Tahun ini target Rp 1,5 triliun kita upayakan bisa tercapai. Dengan demikian outstanding KUR di Maret 2023 dibandingkan Maret tahun 2022, ini juga cukup besar pertumbuhannya sebesar 42,9%, sekarang ada di Rp 1,9 triliun," jelasnya.

Kemudian, dari sisi dana pihak ketiga (DPK), Bank Sumut sedikit memgalami penurunan yang relative flat, yaitu 0,95%. Pada Maret tahun 2022, angka DPK Bank Sumut mencatatkan perlolehan angka Rp 34 triliun. Namun sayangnya di Maret tahun 2023, tercatat penurunan tipis di kisaran angka Rp 33,7 triliun.

Meski begitu, kondisi perkembang digitalisasi Bank Sumut sudah memiliki strategi untuk meningkatkan pertumbuhan casa. Jika dilihat dari casa, komposisi DPK dari tabungan meningkat 2%, deposito masih mendominasi dengan 12,9% pertumbuhannya, dan giro menurun 19,4% yoy.

Secara umum, penurunan DPK dipicu oleh adanya penurunan giro. Sedangkan dari sisi deposannya, ritail masih mendominasi dengan perolehan angka 42%, pemerintah 34% dan korporasi 24%. "Ini sejalan dengan rencana kita juga untuk menumbuhkan basis dana murah, yaitu casa dengan segmentasi retail," tambahnya.

Dari sisi laba, kata Arieta, jika dibandingkan dengan Maret tahun lalu, Bank Sumut ingin mencapai laba Rp 811 miliar hingga akhir tahun 2023. Kabar baiknya, hingga kuartal I, laba yang diperoleh sudah mencapai Rp 204 miliar.

"Ini bisa dilihat dari segi kinerja keuangan Bank Sumut tetap konsisten, dan kita on track untuk mencapai target akhir tahun Rp 811 miliar. Achievement juga jauh diatas, yaitu 122%," ucapnya.

Lalu dari sisi rasio, loan to deposit Ratio (LDR) Bank Sumut mencapai 84,46% yang dalam artian capaian tersebut cukup sehat dengan batas secara regulasi di 84%-94%.

Jadi penetrasi pembiayaan yang ditopang oleh DPK, menunjukan tingkat rasio yang sehat. Dari permodalan Bank Sumut, ada pula Capital Adequacy Ratio (CAR), atau rasio kecukupan modal yang ada di angka 21,15%.

Namun jika dibanding tahun lalu, capaian itu sedikit meningkat dengan return yang totalnya 18,9% dan akhir tahun lalu ditutup dengan return dengan 17, 24%. Sedangkan return on aset (ROA), posisinya tercatat berada di 2,40%.

Arieta menjelaskan bahwa rasio profitabilitas Bank Sumut ditunjukan melalui NIM (Net Interest Margin) dan BOPO (Biaya Operasi Pendapatan Operasi).

Bopo dari sisi efisiensi, adalah bagaimana Bank Sumut mengelola tingkat efisiensi yang tahun lalu 74,81%, tahun ini diturunkan menjadi 73,80%.

"NIM dibanding tahun lalu, maupun di Desember, tahun ini sedikit terkoreksi, tapi NIM 6,26% ini masih cukup tinggi. Terkoreksi karena memang dari sisi cost of fund kita mengalami peningkatan karena tingkat suku bunga yang di pasar itu meningkat," tambahnya.

Selanjutnya, dari sisi resiko kredit, Bank Sumut mecatatkan angka 2,72% NPL Gross, dan 1,31% di NPL Nett. Jika dibandingkan dengan perolehan tahun lalu secara yoy, kondisinya cukup membaik. Akan tetapi sedikit terkoreksi jika dibandingkan dengan posisi di Desember.

Secara likuiditas hal ini juga tercermin dari rasio AL dibanding NCO yang berada di angka 93,04%, dengan batas ketentuan adalah 50% dan Eta mengaku Bank Sumut capaiannya jauh diatas angka tersebut.

"Artinya secara tingkat likuiditas Bank Sumut sangat likuid. Yang bisa mengcover kebutuhan penarikan. Hal itu menunjukkan tingkat rasion likuiditas yang sangat sehat," jelas Arieta.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru