Kisah Paguyuban Banyumas di Sumut, Tiba di Amplas Kena Palag Preman Hingga Buka Usaha

Redaksi - Selasa, 14 April 2026 12:24 WIB
Kisah Paguyuban Banyumas di Sumut, Tiba di Amplas Kena Palag Preman Hingga Buka Usaha
Poto: Istimewa
Paguyuban mBanyumas Gell.
drberita.id -Sumatera Utara kembali menunjukan kekayaan keberagaman budaya yang hidup harmonis. Salah satunya tampak dalam kebersamaan Paguyuban mBanyumas Gell, wadah warga Jawa Ngapak asal Banyumas yang kini menetap dan berkiprah di berbagai daerah di provinsi ini.

Keberadaan paguyuban ini mulai banyak dikenal publik setelah digelarnya acara Halal Bi Halal yang berlangsung hangat di kediaman Ketua Paguyuban, Ngalimun, di Jalan Pasar 2 Barat, Gang Melati, Medan Marelan, Minggu 12 April 2026.

Suasana penuh kekeluargaan terasa sejak awal hingga akhir acara. Usai menikmati hidangan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan saling bersalam-salaman sebagai bentuk mempererat silaturahmi. Momen semakin menarik ketika anggota baru diberi kesempatan untuk memperkenalkan diri, menyebutkan asal daerah di Banyumas, sekaligus berbagi kisah perjalanan hidup mereka hingga bisa sampai dan menetap di Sumatera Utara.

Salah satu cerita yang mencuri perhatian adalah pengalaman seorang anggota saat pertama kali menginjakan kaki di Medan. Setibanya di Terminal Amplas, ia sempat mengalami kejadian tidak menyenangkan karena menjadi korban aksi premanisme atau "dipalag". Hal yang membuatnya heran, pelaku bahkan mengetahui tujuan perjalanannya menuju Mandala by Pas.

Dalam kondisi panik dan kebingungan, pertolongan datang dari seseorang bermarga Ginting yang kemudian menolongnya. Sosok tersebut hingga kini tetap dikenang sebagai penyelamatnya di tanah perantauan. Diketahui, orang yang dimaksud saat ini tinggal di Binjai-Langkat dan memiliki kemampuan dalam membantu pengobatan orang sakit.

Kisah tersebut menjadi bukti bahwa di balik kerasnya kehidupan awal perantauan, masih ada nilai kemanusiaan yang begitu kuat.

Tak hanya kaya cerita, warga Banyumas di Sumatera Utara juga menunjukan keberagaman profesi yang luar biasa. Jika selama ini masyarakat lebih mengenal mereka sebagai pelaku usaha kuliner seperti mendoan (tempe goreng khas) dan bakso, ternyata kiprah mereka jauh lebih luas.

Mulai dari bidang grafika, wirausaha di berbagai sektor, hingga pengabdian sebagai prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang bertugas di berbagai satuan seperti Kodam I/Bukit Barisan, Kodim, hingga Lantamal I Belawan. Tidak sedikit pula yang telah mencapai posisi sebagai perwira maupun bintara.

Dalam kesempatan tersebut, salah satu anggota yang memiliki usaha di Kabupaten Batubara bahkan membuka peluang kerja bagi sesama warga paguyuban. Ia mengajak anggota yang memiliki anak atau keluarga yang membutuhkan pekerjaan untuk datang langsung ke lokasi usahanya.

Selain itu, ia juga menawarkan pengalaman kebersamaan di areal usahanya yang luas, lengkap dengan sajian ikan gurami dan hidangan lainnya.

Acara Halal Bi Halal ini dipandu dengan penuh keakraban oleh Agus Nasigit, yang berhasil menjaga suasana tetap hangat, santai, namun sarat makna.

Keberadaan mBanyumas Gell menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong, kekeluargaan, dan solidaritas warga perantauan tetap terjaga meski jauh dari kampung halaman. Di tengah keberagaman Sumatera Utara, mereka hadir sebagai contoh kuatnya persatuan dalam perbedaan. Luar biasa, mBanyumas Gell!

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru