Menelisik Misi Ke Bangsaan AHY Melalui "Let's Break Zero Sum Game"
Redaksi - Rabu, 23 November 2022 08:55 WIB
Poto: Istimewa
AHY
Prof. Mickey Lauria Ph.D dan Prof. Carissa Schively Sloterback dalam Learning From Arnstein's Ladders: From Citizen Participation to Public Engagement" mencontohkan bagaimana masyarakat Aceh cepat keluar dan sembuh dari traumatik berat akibat dampak bencana tsunami di era pemerintah SBY, hal tersebut dikarenakan masyarakat dilibatkan dalam pembahasan program yang akan dilakukan pemerintah, masyarakat dilibatkan dan turut serta untuk mengatur apa yang diinginkan dan dibutuhkan, masyarakat ikut serta dalam mengelola program yang dibuat. Masyarakat terlibat dalam setiap program dari yang hal kecil hingga terbesar.
Diktator Angel Rabasa & John Haseman Military and Democracy in Indonesia (2002) penelitian yang dilakukan oleh gabungan Intelijen AS & SRND untuk kepentingan AS dan negara tetangga di Indonesia, mengatakan bahwa; Indonesia akan kembali ke era kediktatoran pasca perlahan-lahan keluar dari reformasi dan memperbaiki ekonomi dan demokrasinha.
Namun kembali terjebak ke kediktatoran dengan indikator-indikator sebagai berikut; 1). tidak terpilih pemimpin sipil yang kompeten, 2). lembaga - lembaga negara pasca reformasi tidak bekerja sebagai mana mestinya, dan lain-lain.
Perlu di pahami dalam bernegara, apabila maka setiap orang akan dibatasi secara berlebihan, keterlibatan publik hilang, terlepas dari perdebatan kurangnya pengetahuan tentang bernegara, sudah sepantasnya memikirkan mereka yang masih hidup dibawah garis kemiskinan, keterlibatan rakyat sangat dibutuhkan. Secara nyata kita melihat hal pembentukan, pengesahan Undang - Undang Omnibus Law, dan banyak kebijakan lainnya yang minim bahkan tidak melibatkan publik sama sekali.
Kesimpulan; Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam beberapa kritisinya sedang mengajak bersatunya warga negara ditengah keretakan negara dan bangsa akhir- akhir ini, melalui lintas generasi, lintas budaya, lintas agama, lintas disiplin ilmu, dengan pemikiran - pemikiran ilmiah (literally), dan dapat di praktekkan oleh pemimpin-pemimpin kontemporer yang berpengaruh (tokoh-tokoh bangsa).
BACA JUGA:
Anies 2 Hari Datang ke Medan, Demokrat dan PKS Tidak Ikut Dilibatkan
Selanjutnya yang ber-integritas, dengan integritas, seorang pemimpin akan melahirkan dampak positive terhadap lingkungan nasional dan internasional. Tentunya pemikiran ini adalah pemikiran muda yang maju bahkan bertaraf internasional, namun apakah tokoh-tokoh politik kontemporer memahami apa yang di maksud pemimpin muda ini?? menjadi pertanyaan besar bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Pada dasarnya apa yang disampaikan oleh AHY adalah tafsir mendalam dari alinea pertama Pembukaan UUD 1945 yang menyatakan; "Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,".
Potongan kalimat di atas adalah amanah negara, amanah seluruh pendiri bangsa kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memilih pemimpin yang memiliki kemampuan berbicara yang bagus, pemikiran yang besar, pengetahuan yang besar pula. Hanya dengan hal-hal tersebut seorang pemimpin dapat menang dalam negosiasi untuk kepentingan publik, hanya dengan kemampuan tersebut seorang pemimpin dapat menundukkan pemimpin - pemimpin global dalam negosiasi ekonomi internasional.
SHARE:
Editor
: Redaksi