Sekjen SPMI Protes Sikap Jokowi Terkait 16.000 TKI Balik ke Indonesia
DRberita | Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengkhawatirkan kepulangan 16.000 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) akan memunculkan Virus Corona (Covid-19) gelombang kedua. Sehingga memerintahkan jajaranya untuk memonitor secara ketat untuk mencegah penyebaran virus dari klaster pekerja migran.
Pernyataan Jokowi tersebut ditanggapi Sekjen Serikat Pekerja Migran Indonesia (SPMI) Nicho Silalahi. Nicho dalam keterangan persnya, Selasa 5 Mei 2020, memerotes sikap Jokowi tersebut.
Baca Juga: Dirujuk dari Bireun, Ajudan Wagub Sumut Kembali Positif Corona
"Kita mengapresiasi dan memuji langkah-langkah Presiden Jokowi, namun di sisi lain kita sangat kecewa. Dimana tidak sedikitpun Presiden Jokowi menyinggung tentang Tenaga Kerja Asing (TKA) yang masuk ke negeri ini," ucap Nicho.
Padahal, kata Nicho, saat ini TKA khususnya dari China masih terus bebas masuk ke Indonesia. Dan maraknya rakyat Indonesia menjadi pekerja migran itu diakibatkan oleh kemiskinan dan sulitnya mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri.
"Pertanyaanya, kenapa rakyat sendiri yang mau pulang ke tanah air malah dicurigai sebagai pembawa virus baru, sedangkan wisatawan asing dan TKA khususnya dari China tidak sedikitpun dicurigai, maksud pak presiden apa?" katanya.
Baca Juga: Polrestabes Medan Tidak Izinkan Unjuk Rasa BBM Mahasiswa UINSU
Menurut Nicho, seharusnya Jokowi menyambut para Pekerja Migran Indonesia dengan karpet merah dan memberikan penghargaan yang tinggi sebagai pahlawan devisa, karena secara sukarela mereka telah mengorbankan diri dengan meninggalkan tanah air untuk menghasilkan uang masuk ke Indonesia. Atas bantuan para pekerja migran inilah perekonomian Indoensia masih bisa bertahan.
Bayangkan, jika jutaan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang sedang berada di luar negeri itu tidak sudi meninggalkan tanah air untuk mengadu nasib, maka sudah bisa dipastikan lonjakan angka pengangguran akan meningkat tajam.
Bahkan, lanjut Nicho, bukan tidak mungkin para pengangguran itu akan membuat kerusuhan di daerah asalnya, serta sekaligus hilangnya sumber devisa terbesar setelah sektor pertambangan negeri ini.
Baca Juga: Bukan PSBB Bikin Rakyat Stres, Tetapi Biaya Hidup Yang Tidak Dijamin Negara
"Selaku kepala negara, Jokowi tidak etis mencurigai 16 ribu pekerja migran yang mau kembali ke Indoensia sebagai ancaman pembawa virus baru Covid-19. Jokowi harus paham, sungguh sangat sakit rasanya ketika pengorbanan pekerja migran malah dianggap ancaman bagi bangsa ini," terang Nicho.
SPMI, kata Nicho, berharap Jokowi menghormati para PMI sebagai pahlawan devisa. Jangan lagi mereka dibiarkan hanya menjadi "tumbal devisa Negara", tolong juga gerakan unsur pemerintah untuk memperlakukan para pekerja migran dengan manusiawi.
"Jika ingin mengkarantina mereka (PMI) maka berikanlah tempat yang layak seperti perlakuan pak presiden terhadap para mahasiswa dari Kota Wuhan, China, itu beberapa waktu lalu," tegasnya. (art/drb)
DPO Kasus PMI Ilegal di Tanjungbalai Belum Ditangkap, Cek Rasyid Bebas Berkeliaran
Kakan Kemenag Deliserdang Apresiasi PMII Buka Puasa Bersama dan Santuni Anak Yatim
Buruh FSPMI HUT ke 25 Tahun Akan Datangi Kantor Gubsu dan Gedung DPRD Sumut, Usung 10 Tuntutan
Hanya 8 Sektor Industri, FSPMI Sumut Tolak UMS Provinsi yang Ditetapkan Pj. Gubsu
7 Aktivis HMI dan PMII Ditangkap Polres Asahan