Dolar Perkasa Daya Beli Parah: Hanya Ekspor dan Pariwisata Bisa Untung
Redaksi - Minggu, 14 Juni 2026 14:24 WIB
Poto: Ilustrasi
Dolar dan rupiah.
drberita.id -Dolar Amerika Serikat (AS) semakin perkasa terhadap rupiah. Daya beli masyarakat semakin diperparah dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan bahan pokok.
Dampak dolar pun meningkatkan biaya bahan baku industri, serta harga barang ekspor-impor.
Wakil Ketua DPD PDIP Sumut Wong Chun Sen mengakui nilai dolar terhadap rupiah secara otomatis meningkatkan tekanan inflasi bagi pelaku usaha hingga membebani masyarakat.
"Kenaikan dolar ini memicu lonjakan biaya impor dan inflasi. Dampaknya sangat dirasakan pelaku usaha dan masyarakat, yang diikuti oleh kenaikan harga kebutuhan pokok setiap harinya," ujar Wong Chun Sen, Minggu 14 Juni 2026.
Ketua DPRD Kota Medan ini tidak membantah nilai dolar saat ini memberikan keuntungan bagi sektor ekspor dan pariwisata. Namun secara umum, kondisi tersebut lebih banyak merugikan masyarakat.
Harga barang seperti elektronik, BBM, hingga bahan pangan menjadi semakin mahal. Jika daya beli masyarakat terus menurun, secara otomatis perputaran ekonomi juga melambat.
"Ini yang harus menjadi perhatian serius oleh pemerintah," tegasnya.
Wong Chun Sen menilai kenaikan harga BBM Pertamax menjadi Rp.16.250 per liter merupakan konsekuensi dari tingginya harga minyak dunia dan melemahnya nilai rupiah. Namun demikian, pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat menanggung bebannya sendirian.
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) harus segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas harga dan mencegah kepanikan massal di tengah masyarakat.
"Jangan sampai masyarakat panik karena harga terus naik. Pemprov Sumut harus hadir memberikan kepastian dan perlindungan kepada masyarakat," tegas Wong.
Wong Chun Sen mengusulkan langkah strategis yang dapat dilakukan Pemprov Sumut. Pertama; memperkuat operasi pasar murah di seluruh kabupaten kota, terutama akses distribusi di wilayah pedesaan yang masih terbatas.
Kedua; memastikan stok sembako tetap aman dan terjaga melalui pengawasan distribusi dan mencegah praktik penimbunan barang.
Ketiga; memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, bulog, distributor, dan pelaku usaha, agar rantai pasok kebutuhan pokok tetap berjalan lancar.
Keempat; memberikan dukungan kepada petani, nelayan, dan pelaku UMKM agar produksi lokal meningkat dan tidak ketergantungan terhadap barang impor.
Wong juga meminta pemerintah daerah lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat, agar tidak muncul kepanikan berlebihan.
"Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang benar. Jangan sampai kenaikan harga barang dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan hingga menimbulkan kepanikan pasar," katanya.
Kondisi tekanan ekonomi yang dihadapimasyarakat kecil saat ini, lanjut Wong, sudah sangat menyedihkan. Mereka hanya memenuhi kebutuhan keluarga, bukan untuk menumpuk kekayaan.
"Kita harus memahami bahwa banyak masyarakat yang bekerja setiap hari hanya untuk bertahan hidup. Ketika BBM naik dan harga sembako ikut melonjak, kelompok inilah yang paling merasakan dampaknya," katanya.
Wong Chun Sen mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat, bersama-sama menjaga stabilitas ekonomi di daerah agar daya beli tetap terjaga.
"Gotong royong dan kepedulian sosial harus diperkuat. Pemerintah harus bergerak cepat, pelaku usaha harus berperan menjaga stabilitas harga, dan masyarakat harus tetap tenang. Dengan kerja sama yang baik, Sumut pasti mampu melewati tekanan ekonomi ini," pungkasnya.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Indonesia Siap Jadi Pemimpin Pariwisata Dunia
Mustahil Presiden Prabowo Tidak Faham Dampak Buruk Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS
Dolar AS Perkasa di Indonesia, Prabowo Panggil Anak Buah ke Istana Negara
Kejagung Sita Puluhan Aset Perusahaan dan Tersangka Korupsi Ekspor CPO di Raiu dan Medan
Purbaya Ingatkan Bank Sentral Soal Rupiah Melemah Dekati Rp 17 Ribu Per Dolar AS
Polsek Medan Tuntungan Jual Beras Murah Sambut HUT Kemerdekaan RI ke-80 Tahun
Komentar