Mengawal Koperasi Merah Putih
Model koperasi ini tidak hanya menyediakan akses modal berbunga ringan, tetapi juga mendampingi anggotanya dalam manajemen usaha, pemasaran, hingga pelatihan kewirausahaan. Koperasi ini menjadi tentu solusi nyata bagi para pedagang pasar, petani kecil, serta pelaku UMKM yang selama ini kesulitan menjangkau perbankan konvensional.
Namun seiring membesarnya gerakan ini, tentu ada catatan kritis yang perlu diperhatikan, misalnya soal transparansi. Keterbukaan informasi keuangan, keputusan program yang akan dijalankan, hingga prinsip musyawarah dalam kepengurusan harus dikuatkan.
Hal hal semacam ini patut untuk dicermati. Sebab prinsip koperasi adalah dari anggota, oleh anggota, dan untuk anggota. Begitu prinsip ini dikesampingkan, maka koperasi akan kehilangan kepercayaan. Selain itu, ada pula kekhawatiran bahwa Koperasi Merah Putih terlalu lekat dengan simbolisme politik. Memang tidak ada yang salah dengan penggunaan simbol nasional seperti "Merah Putih".
Namun ketika koperasi terlalu sering ditampilkan dalam narasi narasi nasionalisme tanpa disertai dampak nyata bagi anggota di akar rumput, maka yang muncul hanyalah romantisme semu. Koperasi bisa saja terjebak menjadi alat pencitraan atau bahkan alat politik. Padahal substansi gerakan ini adalah kesejahteraan ekonomi berbasis kolektivitas warga.
Selain beberapa masalah di atas, tentu ke depannya gerakan ini akan mendapati masalah baik secara teknis maupun sistemnya. Untuk itu perlu usaha memperkuat literasi anggota.
Banyak masyarakat yang tertarik bergabung karena iming iming modal cepat atau program subsidi, namun tidak benar benar memahami prinsip koperasi. Akibatnya, mereka hanya menjadi peserta pasif. Koperasi harus mendorong panggotanya untuk terlibat aktif dalam pengambilan keputusan, ikut memantau keuangan, dan memiliki kesadaran kolektif bahwa keberhasilan koperasi adalah tanggungjawab bersama.
Dari aspek transparansi dan akuntabilitas mutlak ditingkatkan. Setiap keputusan harus dikomunikasikan dengan jelas, laporan keuangan disampaikan secara berkala, dan evaluasi harus melibatkan seluruh anggota. Jika koperasi ingin tumbuh sehat, maka sistem pengawasan internal maupun eksternal perlu diperkuat sejak dini.
Inflasi Sumut Belum Teratasi, Harga Cabai Merah Masih Mahal di Kota Medan Rp. 60 Ribu/Kg
Ormas PMP Jual Cabai Merah Rp. 35 Ribu/Kg di Medan, Harga di Pasar Tradisional Datok Kabu Rp. 72 Ribu/Kg
Lailatul Badri Imbau Masyarakat Medan Kibarkan Merah Putih, Bukan One Piece di Kemerdekaan RI ke 80
Menjaga Merah Putih di Tengah Perbedaan
Pemuda Muhammadiyah Dukung Koperasi Merah Putih