Pengamat: Perang Dagang Dunia Hantam Pelaku Usaha Indonesia Hingga ke Dapur Rakyat

Redaksi - Minggu, 13 April 2025 17:03 WIB
Pengamat: Perang Dagang Dunia Hantam Pelaku Usaha Indonesia Hingga ke Dapur Rakyat
Poto Istimewa
Pengamat Ekonomi Benjamin Gunawan
drberita.id -Perang dagang raksasa dunia antara Amerika Serikat dan China sangat nyata berdampak secara global hingga terasa ke dapur rakyat Indonesia. Pelaku usaha khususnya usaha mikro kecil menengah (UMKM) dipastikan sangat merasakan dampak tersebut.

"UMKM kita ini hidupnya tergantung daya beli. Kalau rakyat makin seret, otomatis UMKM pun goyah. Resikonya pasti akan terasa hingga ke dapur rakyat," ungkap Pengamat Ekonomi Benjamin Gunawan di Coffee Morning Koperasi Keluarga Pers Indonesia di Hotel Sultan, Medan, Jumat 11 April 2025.

Benjamin pun menyontohkan turunnya harga sawit hingga 65 persen sebagai pemicu anjloknya ekonomi lokal. Jika harga sawit jatuh, ekonomi daerah yang bergantung dari hasil sawit otomatis ikut goyang. Akibatnya, uang di tangan masyarakat jadi makin tipis.

Tak hanya itu, fakta kekhawatirkan soal kondisi perbankan juga terjadi pada rasio loan to deposit ratio (LDR) yang tembus angka 94%, dan menandakan likuiditas bank mulai kritis.

"Jika keuangan masyarakat habis untuk kebutuhan harian, mereka nggak akan nabung. Jika tabungan turun, bank pasti kekeringan likuiditas. Nah, kalau bank udah seret, dari mana lagi pelaku usaha khususnya UMKM bisa pinjam modal?," jelasnya.

Menurutnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar akan terus melemah seiring dengan waktu, dan kini sudah menyentuh pada angka Rp. 17.000. Bisa dibayangkan nasib penjual tau atau tempe yang harus membeli kedelai impor dengan harga bahan baku naik, tetapi daya beli konsumen turun.

"Bagaimana, jadi serba salah kan?," kata Benjamin.

Benjamin memang mengakui pemerintah sedang mencoba negosiasi dagang dengan Amerika Serikat agar tidak makin terjepit. Salah satu opsinya tidak menaikan tarif barang impor. Tapi langkah inipun tidak lepas dari risiko perbankan Indonesia.

Jika barang impor masuk tanpa batas ke Indonesia, dipastikan produk lokal bisa kalah bersaing, dan UMKM semakin berat bernapas.

Kondisi ekonomi saat ini tidak bisa disikapi dengan kebijakan tambal sulam. Pemerintah dan pelaku usaha harus bersiap dengan strategi jangka menengah dan panjang.

"Ini bukan masa masa normal. Dunia sedang berubah cepat. Kita perlu regulasi baru dan pendekatan baru. Jangan sampai salah langkah, karena taruhannya besar," tegas Benjamin Gunawan.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru