Peneliti BRIN: Orangutan Tapanuli Spesies Paling Tua
Untuk keluar dari krisis, Wanda mengusulkan pendekatan koeksistensi holistik berbasis empat pilar, yaitu ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya.
Dari sisi ekologi, konservasi harus berbasis lanskap dan menjaga koridor pergerakan. Dari sisi ekonomi, masyarakat perlu mendapat alternatif usaha seperti ekowisata, kehutanan sosial, atau agroforestri.
Dari sisi sosial dan budaya, peningkatan kapasitas dan perubahan cara pandang masyarakat menjadi kunci. "Keberadaan orangutan seharusnya dilihat sebagai aset, bukan beban," ujarnya.
Wanda menekankan perlunya payung hukum setingkat peraturan presiden agar koordinasi lintas kementerian berjalan efektif. Menurutnya, kunci keberhasilan koeksistensi tetap ada di tangan manusia.
"Koeksistensi akan tercapai ketika kita, manusia, mampu menyadari kebutuhan ekonomi, sosial, dan budaya kita harus seimbang dengan kebutuhan ekologi orangutan. Selama kita masih merasa berada di atas mereka, koeksistensi akan sulit dicapai," katanya.
Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), merupakan spesies primata yang diyakini sebagai nenek moyang tertua orangutan di Indonesia, kini berada di ambang kepunahan.
Konflik dengan manusia dan kerusakan habitat kini menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup satwa langka yang hanya ditemukan di Sumatera Utara.