PMII Medan Kecewa Sikap Polisi Terlalu Reprensif Kepada Mahasiswa
Artam - Rabu, 25 September 2019 22:21 WIB
drberita/istimewa
Ketua PC PMII Medan Joni Sandri Ritonga.
DRberita | Ketua PC PMII Medan Joni Sandri Ritonga kecewa terhadap sikap polisi yang terlalu reprensif kepada mahasiswa saat melakukan pembubaran paksa pada aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Sumut.
Kekecewaan Joni semakin bertambah lantaran beberapa mahasiswa yang menjadi korban kekerasan polisi hingga berdarah-darah adalah teman-teman seperjuangannya.
"Mestinya begini, kalo polisi memberi izin demonstrasi, mestinya dikawal, diarahkan, bukan dipukuli," tegas Joni, Rabu 25 September 2019.
"Kalo sudah seperti itu, artinya mahasiswa berhadap-hadapan dengan polisi. Nah kami sedih dan prihatin terjadinya pemukulan itu," sambungnya.
Dikatakan Joni, walau bagaimana pun mahasiswa juga manusia. Seharusnya mereka diayomi dan dilindungi, sesuai semboyan polisi. Tak masalah demo mahasiswa dibubarkan jika melanggar aturan. Tapi jangan dipukuli.
"Tindakan untuk membubarkan oke, tapi untuk pemukulan no. Apakah negara kita seperti itu, main pukul?" cetusny.
"Mahasiswa inginnya ada forum untuk mediasi dengan kepolisian. Mereka itu berpegang pada pemberitahuan aksi dan izin yang diberikan kepolisian. Sementara belum waktunya sudah dibubarkan, pakai main kekerasan lagi," pungkasnya.
Diketahui, sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka setelah terjadi bentrok dengan kepolisian pada aksi demonstrasi menolak revisi undang undang KPK, KUHP dan lainya di kawasan gedung DPRD Sumut, Selasa 24 September 2019.
Kekecewaan Joni semakin bertambah lantaran beberapa mahasiswa yang menjadi korban kekerasan polisi hingga berdarah-darah adalah teman-teman seperjuangannya.
"Mestinya begini, kalo polisi memberi izin demonstrasi, mestinya dikawal, diarahkan, bukan dipukuli," tegas Joni, Rabu 25 September 2019.
"Kalo sudah seperti itu, artinya mahasiswa berhadap-hadapan dengan polisi. Nah kami sedih dan prihatin terjadinya pemukulan itu," sambungnya.
Dikatakan Joni, walau bagaimana pun mahasiswa juga manusia. Seharusnya mereka diayomi dan dilindungi, sesuai semboyan polisi. Tak masalah demo mahasiswa dibubarkan jika melanggar aturan. Tapi jangan dipukuli.
"Tindakan untuk membubarkan oke, tapi untuk pemukulan no. Apakah negara kita seperti itu, main pukul?" cetusny.
"Mahasiswa inginnya ada forum untuk mediasi dengan kepolisian. Mereka itu berpegang pada pemberitahuan aksi dan izin yang diberikan kepolisian. Sementara belum waktunya sudah dibubarkan, pakai main kekerasan lagi," pungkasnya.
Diketahui, sejumlah mahasiswa mengalami luka-luka setelah terjadi bentrok dengan kepolisian pada aksi demonstrasi menolak revisi undang undang KPK, KUHP dan lainya di kawasan gedung DPRD Sumut, Selasa 24 September 2019.
"Semua orang berhak menyampaikan aspirasi di manapun, kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bubarkan dengan cara yang manusiawi, bukan sebaliknya main pukul," seru Joni. (art/drb)
SHARE:
Editor
: Artam
Tags
Berita Terkait
Rektor UINSU Prof Syahrin Didesak Mundur
PP HIMMAH Demo di Patung Kuda dan DPR RI, Desak Jokowi Copot 6 Menteri
Mahasiswa Minta OKP dan Ormas Ikut Demo Jokowi dan Luhut
Aktivis 98 Kritik Bobby dan Gibran Ikut - Ikutan Tanggapi Presiden 3 Periode
Relawan Jokowi Dukung Aksi Mahasiswa 11 April
Koordinator Aktifis 98 Sumut: Aksi Mahasiswa 11 April Gak Nyambung dengan Realitas
Komentar