Pemilihan Koordinator Wartawan Pemko Medan Ricuh dan Ditolak

Salah Satu Kandidat Sakit
Redaksi - Rabu, 06 Maret 2024 21:16 WIB
Pemilihan Koordinator Wartawan Pemko Medan Ricuh dan Ditolak
Poto: Istimewa
Suasana rapat pemilihan Kordinator Wartawan Pemko Medan yang ricuh dan tak sah.
drberita.id -Pemilihan Koordinator Wartawan unit Pemerintah Kota (Pemko) Medan periode 2024-2026 berlangsung ricuh, Rabu 5 Maret 2024. Keputusan panitia ditolak dan tidak sah, karena tidak menjalankan peraturan pemilihan sebagaimana mestinya.

Salah seorang wartawan senior Lilik Riadi Dalimunthe menuturkan, panitia pemilihan yang dipimpin Muhammad Said (LKBN Antara) menganulir salah satu kandidat, Muhammad Edison Ginting yang tidak hadir karena sakit dan memenangkan calon incumbent Syaifullah Defaza (medankinian.com) sebagai koordinator terpilih. Padahal, pemilihan belum lagi dilaksanakan, Syaifullah dinyatakan menang.

Muhammad Edi Ginting yang sebelumnya tiga kali berturut-turut menjadi Koordinator Wartawan unit Pemko Medan, diketahui sakit dan tengah mendapatkan perawatan di RS Malahayati Medan.

Namun keputusan panitia diprotes dari kubu Edison Ginting. Pasalnya, panitia dinilai sepihak menganulir keikutsertaan Edison Ginting yang memiliki sangat banyak pendukung.

Edison Ginting menurut banyak wartawan yang bertugas di Pemko Medan, sangat layak untuk koordinator berdasarkan hasil kinerjanya yang sebelumnya.

"Pemilihan ini tidak sah, karena belum ada pemilihan. Panitia itu penyelenggara bukan pengambil keputusan. Pengambil keputusan adalah floor (anggota). Untuk apa ratusan wartawan datang ke sini jika tidak memilih. Dalam hal ini kami anggap panitia demisioner, dan kami tidak mengakui keputusannya," ujar Lilik Riadi Dalimunthe.

Dia juga menyayangkan sikap panitia yang seolah memihak kepada salah satu kandidat. Hal ini terlihat dari awal proses pemilihan, dimana daftar pemilih tetap (DPT) wartawan yang berhak memilih ternyata tidak sinkron dengan Dinas Kominfo Kota Medan.

"Karena DPT wartawan yang diberi panitia dari Kominfo Medan untuk 2024, banyak wartawan baru yang medianya belum terverifikasi. Sedangkan wartawan lama dengan medianya yang sudah terverifikasi malah tidak masuk dalam DPT untuk pemilihan kordinator wartawan ini. Sebenarnya ada apa ini? Berulangkali ditanyakan, jawaban panitia terkesan mengambang dan buang badan," kata Lilik.

Sementara Roy, wartawan yang bertugas di Pemko Medan menegaskan, sikap panitia yang terkesan memihak menunjukan tak ada demokrasi dalam pemilihan. Hal ini akan berakibat terjadinya perpecahan di kalangan wartawan yang bertugas di Pemko Medan.

"Kami menghormati siapapun yang terpilih sebagai ketua. Namun yang kami sesalkan prosesnya yang salah karena keputusan panitia memenangkan salah satu kandidat, tanpa ada pemilihan. Sikap panitia seperti inilah yang membuat wartawan jadi terpecah dan dua kubu. Panitia bukan menyatukan, malah memecah wartawan," tukas Roy.

Sebelumnya, kegiatan pemilihan Kordinator Wartawan unit Pemko Medan dibuka oleh Walikota Medan Bobby Nasution didampingi Kadis Kominfo Medan Arrahman Pane.

Selanjutnya mendengar visi misi dua kandidat, Saifullah dan Edison Ginting yang diwakili oleh Markus Pasaribu (wartawan sumutpos).

Saat beranjak pergi, seorang wartawan langsung mencegat walikota dan mempertanyakan ada 20 wartawan yang tidak masuk DPT. Sementara wartawan tersebut pada tahun lalu terdata dan mendapatkan kerjasama dari Dinas Kominfo Medan.

Menanggapi itu, walikota meminta Arrahman Pane selaku Kadis Kominfo Medan memberikan jawaban. Arrahman beralasan panitia meminta daftar wartawan yang masuk ke Kominfo Medan, bukan yang mendapatkan kerja sama.

Terkait keabsahan pemilih, pihaknya menyerahkan kepada panitia. "Proses pemilihan ini kami serahkan ke panitia, apa syarat dan lainnya. Kami hanya memberikan daftar wartawan yang diminta," kata Arrahman Pane.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru