Menelusuri Akar Sejarah, Adat, dan Jati Diri Bangsa Batak
Redaksi - Rabu, 17 Juni 2026 15:08 WIB
Poto: Istimewa
Patung Raja Batak
Pada akhirnya, adat Batak bukan sekadar warisan masa lalu yang dikenang dalam upacara-upacara adat. Adat adalah napas kehidupan yang membentuk karakter, menjaga persaudaraan, menuntun musyawarah, dan mengajarkan penghormatan kepada sesama manusia.
Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, masyarakat Batak memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan luhur tersebut agar tidak berhenti pada generasi hari ini, tetapi terus hidup di hati anak cucu pada masa yang akan datang.
Sebagaimana umpasa yang diwariskan para leluhur:
"Adat do ugari ni ompu, sai tong dipajongjong sahat tu mulak ni ari."
Adat adalah warisan leluhur yang harus terus ditegakkan sepanjang zaman.
Dan sebagaimana petuah orang tua Batak:
"Sai horas ma hita sude, marsiurupan dohot marsitoguan, asa marsipature huta, patupahon bangsa, jala pasangaponhon budaya Batak."
Semoga kita semua hidup dalam persatuan dan saling menopang, membangun kampung halaman, membangun bangsa, serta memuliakan budaya Batak.
Kiranya kehadiran Perkumpulan Raja Parhata Sedunia menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, memperkaya pengetahuan adat, dan melahirkan generasi penerus yang mampu menjaga martabat budaya Batak di tengah pergaulan dunia.
Karena sesungguhnya, sebuah bangsa tidak menjadi besar hanya karena kemajuan ekonominya, tetapi juga karena kemampuannya menjaga akar budayanya. Selama adat tetap dijunjung, tarombo tetap dikenal, dan nilai-nilai luhur tetap diwariskan, selama itu pula jati diri Batak akan tetap hidup, memberi warna bagi Indonesia, dan menjadi warisan yang membanggakan bagi dunia.
Horas! Horas!! Horas!!!
Mauliate Godang.
Jakarta, 16 Juni 2026
Oleh: Brigjen (Purn.) MJP Hutagaol '86
SHARE:
Editor
: Redaksi