Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Aktor Sejarah Indonesia?

Redaksi - Minggu, 28 Juni 2026 02:02 WIB
Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Aktor Sejarah Indonesia?
Poto: Istimewa
Demo mahasiswa di Indonesia sampai malam.
drberita.id -Bagaimana jika sejarah Indonesia sedang berhenti mengetuk pintu kampus? Pertanyaan itu terdengar berlebihan, bahkan mungkin provokatif.

Selama lebih dari satu abad, kita terbiasa meyakini bahwa setiap kali republik memasuki persimpangan, mahasiswa akan tampil di garis depan.

Keyakinan itu begitu kuat sehingga nyaris berubah menjadi dogma. Seolah-olah sejarah telah menetapkan bahwa kampus adalah tempat lahirnya setiap gelombang perubahan besar di negeri ini.

Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Ingatan kolektif bangsa Indonesia dipenuhi oleh kisah-kisah tentang keberanian kaum muda. Dari bangkitnya kesadaran nasional pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda 1928, desakan kaum muda menjelang Proklamasi 1945, hingga gerakan mahasiswa pada 1966 dan Reformasi 1998, selalu ada generasi yang tampil melampaui zamannya.

Mereka bukan sekadar menjadi saksi sejarah, melainkan ikut menentukan arah sejarah.

Dari sanalah lahir sebuah kepercayaan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya: apabila Indonesia kembali menghadapi krisis, mahasiswa akan kembali menjadi pelopor perubahan.

Namun sejarah memiliki sifat yang sering kali kita lupakan. Ia tidak pernah setia kepada aktor yang sama. Sejarah tidak mengenal hak istimewa. Ia tidak pernah menjanjikan bahwa kelompok yang pernah memimpin perubahan akan terus memegang peran yang sama sepanjang zaman.

Setiap generasi harus membuktikan kembali bahwa mereka masih layak memikul tanggung jawab tersebut. Karena itu, pertanyaan yang sesungguhnya perlu kita ajukan hari ini bukanlah apakah mahasiswa pernah menjadi agen perubahan. Jawaban atas pertanyaan itu telah lama tercatat dalam buku-buku sejarah. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah mahasiswa masih menjadi kelompok yang paling siap menjawab kegelisahan Indonesia hari ini?

Pertanyaan itu bukan tuduhan. Ia juga bukan upaya meragukan idealisme mahasiswa. Masih banyak mahasiswa yang menjaga integritas, keberanian intelektual, dan keberpihakannya kepada kepentingan publik.

SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Komentar
Berita Terbaru