Apakah Mahasiswa Masih Menjadi Aktor Sejarah Indonesia?
Redaksi - Minggu, 28 Juni 2026 02:02 WIB
Poto: Istimewa
Demo mahasiswa di Indonesia sampai malam.
Benar atau salahnya persepsi itu bukan pokok persoalannya. Dalam politik, persepsi yang terus berulang sering kali memiliki daya dorong yang sama kuatnya dengan kenyataan.
Di sinilah benih-benih perubahan biasanya tumbuh. Sejarah jarang digerakkan oleh kelompok yang paling miskin. Ia lebih sering digerakkan oleh mereka yang memiliki harapan besar, tetapi mulai kehilangan kepercayaan bahwa sistem masih memberi ruang bagi harapan itu untuk menjadi kenyataan.
Kelompok inilah yang perlahan membentuk wajah baru Indonesia. Mereka belum memiliki organisasi, belum memiliki pemimpin, bahkan mungkin belum menyadari bahwa mereka berbagi kegelisahan yang sama.
Tetapi demikian pula dengan para pelaku sejarah pada masa lalu. Mereka tidak pernah memulai dengan kesadaran bahwa mereka sedang menulis sejarah. Mereka hanya merasakan bahwa keadaan tidak lagi dapat dipertahankan.
Karena itu, terlalu dini untuk mengatakan bahwa kelompok ini akan menjadi pelopor perubahan berikutnya. Tetapi sama kelirunya jika kita mengabaikan gejala yang sedang tumbuh di depan mata.
Pertanyaan yang layak diajukan bukanlah apakah tahun 2028 akan menjadi titik balik sejarah Indonesia. Tidak seorang pun mampu menjawabnya. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah syarat-syarat yang dahulu melahirkan perubahan mulai muncul kembali dalam bentuk yang berbeda.
Jika jawabannya "ya", maka mahasiswa menghadapi sebuah tantangan yang tidak ringan. Bukan tantangan melawan pemerintah, bukan pula tantangan melawan kelompok lain, melainkan tantangan untuk membuktikan bahwa kampus masih merupakan ruang paling merdeka dalam kehidupan demokrasi Indonesia. Bahwa mahasiswa masih mampu menjaga independensi moralnya ketika kekuasaan semakin piawai membangun kedekatan bahwa keberanian intelektual tidak dapat ditukar dengan akses, fasilitas, atau kenyamanan sesaat.
Sebab sejarah tidak memilih berdasarkan romantisme masa lalu, ia memilih berdasarkan kemampuan menjawab tantangan zamannya. Mungkin sejarah akan kembali mengetuk pintu kampus, tetapi sejarah tidak pernah menunggu terlalu lama.
Jika mahasiswa tetap menjaga keberanian berpikir, kemerdekaan moral, dan keberpihakan kepada kepentingan publik, mereka akan kembali menjadi pelopor perubahan sebagaimana generasi-generasi sebelumnya.
SHARE:
Editor
: Redaksi
Tags
Berita Terkait
Aktivis 98 Sebut Pemerintah Menggembosi Aksi Mahasiswa
Robohnya Demokrasi Kami
Kelompok Mahasiswa Sampaikan Persoalan MBG, BBM, dan KDMP ke DPRD Medan
Menelusuri Akar Sejarah, Adat, dan Jati Diri Bangsa Batak
People Capability Training Series Untuk Penguatan Soft Skill Mahasiswa FEB USU
Tingkat Kemiskinan Rakyat Indonesia Belum Teratasi, BP Taskin Masih Diam
Komentar